Pages

Jumat, 19 September 2014

Hidup adalah Perkara Mengetuk Pintu :ketika saya bersama “pilihan saya”

Sempatkah sesekali kalian terdiam, lalu menawarkan pertanyaan sederhana pada dirimu sendiri. “Kau mau dikenal lalu dikenang sebagai siapa kelak”. Kehidupan adalah proses mencari, mencari pintu mana yang tepat untuk kau ketuk, bisa kau masuki, dan bisa membuatmu nyaman berdiam-lalu menghuni ruangan itu. Banyak pintu yang bisa kau ketuk tapi tak bisa kau masuki, atau ada yang lebih sulit; kau sama sekali tak menemukan pintu untuk kau ketuk. Lalu ada pintu yang bisa kau ketuk, bisa kau masuki, namun kau tak nyaman di dalamnya.

Bukanlah semua tentang hidup adalah perkara mengetuk pintu.

Kau terlahir, besar, lalu orangtuamu mulai menanam banyak benih dalam dirimu yang siap tumbuh jadi cita-cita yang kemudian akan berkembang menjadi obsesi. Obsesi yang kemudian menggiringmu menemukan pintu yang tepat untuk kau ketuk-lalu dipintu cita-cita kau kerap tumbuh menjadi apa-siapa-dan bagaimana.

Saat kau tumbuh menjadi dewasa kau juga perlahan mencari pintu yang tepat untuk kau ketuk, kau masuki,dan jika sudah pas, di dalamnya kau akan nyaman untuk berbicara banyak hal tentang cinta. Jodoh juga perkara mencari pintu yang tepat untuk kau masuki bukan. Dan sebaliknya siapa yang bisa mengetuk hatimu, membukanya dan kau izinkan untuk menghuni ruang paling istimewa yang kau miliki//hati.

Rezeki/karier/pekerjaan dan jodoh yang kuurai di atas dua hal mendasar bukan dalam kehidupan ini. Dua hal mendasar yang bergantung pada proses mengetuk pintu. Ya. Aku makin yakin bahwa hidup adalah perkata mengetuk pintu. Aku berkali-kali mengetuk pintu, banyak pintu yang ketemui dalam hidupku, untuk urusan apa saja itu. Aku terlahir bukan sebagai seorang anak manusia yang punya kehidupan mulus, baik-baik saja, yang jalannya seperti skenario sempurna tanpa revisi. Hingga diusiaku saat ini cukup banyak pintu yang sudah aku ketuk, kumasuki, kuhuni, dan juga pintu yang tak kuketuk sama sekali. Atau yang kuketuk,  namun tak kumasuki, meski aku harusnya bisa masuk dan menghuni ruangan itu. Ya, hidupku belum tuntas. Namun tentunya aku ingin menemukan ruangan yang tepat itu-secepatnya.

Pertanyaan sederhana “kau mau dikenal lalu dikenang sebagai siapa kelak” memang membuatku berpikir keras tentang pintu-pintu yang sudah kuketuk dan kuhuni sekarang. Menyadarkan aku tentang capaian di usiaku yang sudah 24 tahun. Terlambatkan jika aku keluar dari ruang ini ?? Lalu memutuskan kembali mundur ke belakang, mencari pintu yang sempat kuketuk, namun tak kumasuki itu. Atau sembari itu aku juga akan mencari pintu yang tepat untuk kumasuki (lagi), setelah aku mengetuknya.
Pertanyaan sederhana itu memang tak datang dengan sendirinya. Banyak hal yang terjadi membuatku ‘terdesak’. Ya, entah terjemahan apa yang tepat untuk kata yang kukutip itu. Tapi itulah mungkin kata yang tepat untuk mewakili kondisi yang tak mungkin kuurai dan kujabarkan, karena itu bagian dari proseskku yang tak perlu kalian pahami. Kalian hanya mesti paham aku sedang berusaha menjawab pertanyaan sederhana itu.

“Kau mau dikenal lalu dikenang sebagai siapa kelak”

Aku sudah memutuskan. Keluar dari ruangan itu. Meski banyak yang menyayangkan, namun tentunya aku lebih menyayangkan jika aku terlalu lama harus berdiam diri untuk tidak melanjutkan proses mencariku. Aku tak ingin lebih terlambat dari hari ini.

Semua ini tentangku. Tentang proses yang sedang kumulai, kulanjutkan dan akan aku capai. Teruntuk kalian yang ada disekelilingku, berdiamdirilah lihatlah aku mencari. Namun jikapun ada yang sedang mencoba mendampingiku untuk proses ini terimakasih atas keridhaan menerima proses kembali “nol” yang sedang menjadi pilihanku.

Masih tentang kata.


Duniakata.yo.sinta
*semoga tulisan ini bisa membuat banyak orang paham dan tak lagi menyodorkan pertanyaan “kenapa resign??”




Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com