Pages

Rabu, 24 September 2014

“Let Get Rich” ; sebuah tulisan “duet” aa-ys

Ia asik sendiri. Berusaha membeli banyak rumah, bangunan, hotel, tanah, pulau, dan atribut lainnya yang menjadi candu baginya dalam dunia fantasinya itu. Game itu memang berhasil mencuri banyak waktu dari sedikit waktu santai yang ia punya. Let Get Rich, game itu memang berhasil menghipnotisnya hingga ia menjadi acuh dengan sekelilingnya. Tidak paham bahwa ada orang yang menunggunya untuk bercerita, berdiskusi, atau melakukan hal lainnya yang mungkin lebih menarik dilakukan berdua.Bukan sendiri. Setelah ia bilang “nyawa habis”, ia  mau tak mau menaruh ponsel pintarnya, lalu memilih duduk disampingku. Ia jadi patnerku dalam tulisan ini.

Kami awali dengan pertanyaan ….
 “Saat rambutku mulai rontok, apakah aku sudah cukup kaya?”

Mungkin ini pertanyaan yang sedang sangat ingin ia jawab dengan permainan Let Get Richnya itu. Mungkin dia bukan satu-satunya orang yang menggilai game yang tampaknya sedang mengajak orang untuk menjadi kaya  (meski sedang dalam dunia fantasi).

Apa semua orang di dunia ini bermimpi untuk menjadi kaya. Lalu, apa mungkin ada kekayaan yang tak tampak-tak terlihat secara kasat mata, tapi justru malah dapat dirasakan ? Sehingga, semua orang sah-sah saja untuk bermimpi menjadi kaya, karena kaya bukan perkara yang tampak saja, tapi seperti kataku tadi, ada kaya yang tak tampak, namun nyata; nyata bahwa ia memberikan bahagia (mungkin).

Namun kenyataannnya di dunia nyata, kekayaan sangat diagungkan karena kekayaan dapat merubah situasi dari yang tidak diharapkan menjadi sebuah kondisi ideal, yang tentunya diharapkan. Terkadang, yang harampun bisa dihalalkan.Ya, itu salah satu cara agar bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Memanipulasi hal baik menjadi buruk, atau sebaliknya, hal buruk menjadi baik. Hitam dan putih kadang membaur menjadi ‘abu-abu’ yang sudah sulit dipisahkan lagi muasalnya;putih atau hitam.

Lalu, setelah kaya apalagi yang dicari ? Masih adakah hal diatas kekayaan, sehingga mereka yang sudah sampai pada kondisi baik itu (baca: kaya) malah seolah tak ingin berhenti. Lagi, lagi, dan lagi mengejar kekayaan yang lain, ia menjadi ketagihan untuk mengejar kekayaan berikutnya. Apa itu pertanda bahwa tak ada tolak ukur dan patokan dari kata kaya itu sendiri. Di atas orangkaya ada orang yang lebih kaya, dan diatas yang lebih kaya, ada yang sangat kaya.

Ya, semua masih tentang kaya. Mimpi dari sikaya adalah menjadi yang terkaya, sehingga ia akan berusaha meraih banyak hal yang membuatnya sampai pada posisi ter/posisi paling; paling tinggi dan paling atas. Namun terkadang orang yang terkaya itu tidak memiliki apa yang dimiliki sikaya lainnya. Jika sikaya penyantap steak, pizza, spagety, burger dan semua makanan menggiurkan yang terdengar nikmat itu dengan lahap menyantap hidangannya di meja mewah, samakah dengan kekayaan yang sedang dinikmati penyantap lalap, sambal terasi dan tempe goreng yang sedang melahap semua itu sebagai hidangan penuh cinta yang dibungkuskan istrinya sebagai bekal makan siang hari ini. Adakah yang bisa membandingkan dua hal itu, mana yang lebih nikmat ? Mana yang lebih kaya?

Jika kekayaan diumpamakan sebagai cahaya, bintang bisa disebut sebagai kekayaan itu, karena bintang yang kerap menjadi sumber binar pada gelapnya malam, ia menjadi yang kaya dalam gelap, ia menjadi kaya karena gelap, adakah bintang pada siang yang terang ? Lalu kalau sudah begitu, siapa yang kaya, bintang, atau malam pemilik kegelapan, yang memberi hidup pada bintang.

Semoga kalian akan sampai pada kesimpulan bahwa kaya memang perkara yang tak punya kata pasti untuk tolak ukur, puncak capaiaannya, bahkan bentuknya sekalipun.

Semoga kalian dalam keadaan kaya, dan bersama kekayaan masing-masing.

Ruang Diskusi 24/9 *Dunia Kata.yo.sinta


Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com