Pages

Minggu, 09 November 2014

Dik, Hati itu Menyimpan Banyak Rahasia



Hidup tidak akan jalan di tempat. Ia akan mengantarkan kita pada banyak proses.
Proses akan menjanjikanmu kegagalan seperti ia menjanjikan kesuksesan,
menjanjikan kesedihan seperti ia menjanjikan kebahagiaan,
dan menjanjikan kekecewaan seperti ia menjanjikan kepuasan.

Ya, kekecewaan. Mungkin tak satupun manusia di muka bumi ini yang tidak pernah kecewa. Entah kapan, Entah karena apa, entah kerena siapa, yang jelas kecewa bukanlah hal yang menyenangkan. Bukan hal yang ditunggu di saat pagi di awal hari, bukan yang ditunggu di hari senin di awal minggu, bukan hal yang ditunggu di tanggal 1 januari di awal tahun.
Ya, kekecewaaan adalah hal yang kerap mencabik-cabik hari,
memporak porandakan hati, dan merusak kerja otak secara pasti.

Ini kali berikutnya ia mengeluh tentang harinya yang tak berjalan baik. Dia seseorang yang sudah aku anggap Adik (meski di darahku dan darahnya tak mengalir darah dari Ibu dan Bapak yang sama). Namun kali ini ada kegelisah yang berbeda nampaknya, harinya sedang benar-benar garang tampaknya. Tidak sekedar pesan pendek, tidak sekedar chat di ponsel pintar atau akun pribadi. Bahkan ia tak berani bersuara, tiga surat ia kirimkan, tentu di zaman secanggih ini tak perlu berkirim surat lewat pos; kecuali ingin menikmati sensasinya atau memang sedang diribetkan dengan proses administrasi.

Gelisahnya adalah rahasia kami. Jawabanku juga rahasia kami. Ssssssst, kami berdua sudah berjanji, bahwa kita akan punya rahasia baru; tentang gelisahnya kali  ini. Kepada yang dikenal atau tidak dikenal, kami sudah berjanji bahwa ini akan jadi rahasia. Tiga lembar surat yang ia kirimkan dalam waktu yang berbeda, aku balas dengan tujuh lembar surat yang kukirim pada suatu malam, setelah ia menunggu lebih kurang seminggu untukku bisa menelaah terang tentang gelisahnya, dan bersiap dalam waktu yang cukup lama agar aku tahu cara yang tepat menakhlukan sendunya.

Aku kirimkan surat itu. Lebih kurang 15 menit ia hening tak berkabar. Lalu kemudian kalimat “secepatnya aku akan membalas suratmu, kak. Rinduku terobati, tanyaku berjawab,” masuk ke chat salah satu akun pribadiku. Kalimat itu membuatku berpikir ternyata kata-kataku cukup ampuh untuk membuatnya memahami arti kekecewaan. Aku rasa kata-kataku mampu membuat langkah diamnya beranjak dari rasa sakit yang sedang mengamuk di dalam hatinya. Maka aku putuskan untuk menulis tulisan ini; agar kami tetap punya rahasia, namun aku tetap punya cara berbagi agar dunia tahu, ya, tentang rahasia yang disimpan setiap kata.
***

Dik, hati itu menyimpan banyak rahasia. Aku paham benar bagaimana cara hati menjaga satu persatu rahasia yang kita titipkan padanya. Seberapun kita berkata bahwa kita baik-baik saja, apa yang disimpan hati akan tetap sama. Seberapun kita berkata bahwa kita ikhlas menerima/melepaskan/memaafkan, hati akan tetap penyimpan rahasia bahwa ada rasa sakit disana. Ya Dik, hati memang lihai menyimpan banyak rahasia. Termasuk untuk perkata ikhlasmu kali itu. Seberapapun pada waktu sebelumnya, kau berkata kau ikhlas menerima hal buruk/hal mengecewakan yang terjadi pada dirimu.Tapi akhirnya, hari ini (hari depan-dari harimu waktu lampau itu) kembali menguapkan kejujuran dari dalam hatimu, menerjemahkan rahasia yang masih saja kau simpan sejak hari itu kau berkata kau kecewa. 

Waktu itu, kau mencoba menerima apa yang terjadi. Setelah berpikir keras, merintih sekencang-kencangnya, mengadu dengan berapi-api padaku, kau akhirnya tetap berjalan ke depan, melanjutkan langkahmu, dan kau berhasil beranjak dari kekecewaan. Tapi ternyata sebagai kakak, aku lupa memberikan pelajaran ini padamu. Tentang rahasia hati. Tentang hati yang setia pada rahasia; menjaga apa hal pertama yang kau titipkan padanya. Seperti kau sudah jatuh cinta pada seseorang. Kau menyodorkan hal pertama padanya//pada hati; bahwa kau sayang; lalu jatuh cinta padanya, kau cinta dia. Kalaupun berikutnya hal buruk terjadi, lantas   kau mengenalkan pada rasa sakit, kau mulai pelan-pelan mengenalkan rasa benci, dendam, amarah padanya. Tapi hati akan setia pada rahasia yang sudah kau titipkan padanya. Seberapapun kau belajar membencinya, menjauh darinya, tak ingin melihatnya lagi, tapi hatimu akan tetap setia pada rahasia yang sudah kau perkenalkan pertama kali padanya; kau tetap akan mencintainya. Entah kau harus, mencintainya dalam rasa benci yang menjadi-jadi.

Hari itu ketika kau berkata, bahwa kau kecewa, aku tahu persis bahwa rasa ini juga yang sudah kau titipkan pada hatimu. Meski hari itu kau bangkit dari rasa kecewamu, tapi seperti yang kukatakan tadi, bahwa hati teramat pandai menyimpan rahasia Dik. Hari ini kau gelisah lagi, ia kambuh lagi, rasa kecewa itu kembali mengamuk. Menelan semua kata “tak apa-apa”, “aku bisa”, “aku menerimanya” dan kata-kata berisi amunisi semangat lainnya yang sempat terlontar hari itu. Hatimu tak bisa mengubah rahasia; bahwa kau tak bisa menerima hal buruk yang sedang dihadapkan orang lain padamu.

Ya, aku memang lelai hari itu aku lupa memberikanmu pelajaran tentang ini. Tentang hati, rahasia, serta penawar yang dimiliki hati. Tapi tak ada kata terlambat untuk aku yang menyayangimu. Aku bersyukur, kau masih datang dan mempercayakan gelisah itu menjadi bagian dari gelisahku juga, hingga hari ini aku bisa melanjutkan pelajaran ini untukmu, Dik.

Dik, aku ingin kau bersyukur. Bahwa hari ini kau sudah ditampar, kadang kita perlu merasakan rasa sakit agar kita akan bergegas mencari rasa “manis” untuk penyembuh, dan rasa manis itu (kebahagiaan) akan bisa kau pahami secara utuh, karena kau sudah tahu rasa sakit. Namun bersyukur, memang tak semudah  yang aku menuliskannya di atas. Ada proses belajar untuk ikhlas, atau kita sederhanakan; belajar menerima. Mengamini, bahwa tamparan itu karena kesalahan kita, bukan perkara rasa sakit hati/ kebencian/ dendam/ketidaksukaan/orang lain atau hal buruk lainnya.

Kau pasti akan berkata, bagaimana cara menerima (menikmati) tamparan? Karena itu adalah hal buruk yang menyakitkan, bahkan memalukan. Tapi seperti yang aku bilang padamu tadi, bahwa lagi-lagi hati sangat dekat dengan rahasia Dik, hati menyimpan banyak rahasia. Termasuk untuk hal yang satu itu, ada zat dalam hati yang akan menjadi “penawar/penyejuk” untuk tamparan itu. Jika kau bertanya dimana zat itu Kak ? Kau yang tahu letaknya, hati itu milikmu, kau yang hafal pada ruang mana kau menyimpan zat itu. Ruangmu bukan ruangku atau siapa saja, begitu juga sebaliknya, bisa saja kita menaruhnya pada posisi yang berbeda. Bukankah manusia istimewa karena gumpalan yang kita sebut “hati” itu Dik. Maka tidak salahlah hati akan menyimpan banyak rahasia-termasuk hal baik itu. Aku percaya, kau bisa menemukannya.

Aku sedang berusaha keras memahami gelisahmu. Aku sangat paham kau kecewa. Persis seperti siswa yang tidak mendapat rangking di kelas, padahal ia merasa sudah mengerjakan latihan, PR, dan ujian dengan sangat baik. Persis seperti calon mahasiswa yang tidak lulus SPMB, padahal ia sudah latihan banyak soal, ikut bimbel dengan sangat baik. Persis seperti laki-laki yang ditolak cintanya, padahal ia sudah mengirimkan banyak puisi dan kembang, serta memberikan perhatian dengan baik untuk gadis yang ditaksirnya. (semoga aku menerjemahkan secara tepat kekecewaanmu). Kau masih gagal padahal kau sudah merasa memberikan semua hal baik, dan berusaha dengan baik. Namun ada hal yang lagi harus kamu pahami dek, baik belum tentu benar dan tepat. Apa bunga yang diberikan lelaki pada perempuan yang ia taksir itu akan membuatnya tersenyum ? Kalau ternyata si perempuan alergi bunga. 

Lantas apa ukuran benar dan tepat. Entahlah,ia punya takaran ganjil yang masih sukar kita hitung Dik. Tapi sebagai manusia kau punya akal dan pikiran. Jika jalan yang kau tumpuh, menghadapkanmu pada jalan buntu, maka aku yakin, naluri manusiamu akan membuatnya mencari jalan lain, berbalik, merubah arah, dan berusaha menemukan jalan yang akan membawamu pada tempat yang kau sebut; sampai. Begitupun kali ini, jika kau masih gagal pada proses ini, izinkan proses berikunya mengantarkanmu pada kesuksesan. Seperti yang sering aku katakana; hidup tidak akan jalan di tempat. Ia akan mengantarkan kita pada banyak proses. Proses akan menjanjikanmu kegagalan seperti ia menjanjikan kesuksesan, menjanjikan kesedihan seperti ia menjanjikan kebahagiaan, dan menjanjikan kekecewaan seperti ia menjanjikan kepuasan. Jika proses ini menawarkan kekecewaan padamu, bukankah pada proses berikutnya (kau sedang) dihadapkan pada janjinya untuk menawarkan kepuasan. Ya, kecuali kau sedang memilih untuk tidak melanjutkan proses berikutnya, dan memilih berdiam pada kekecewaan yang sudah dihadiahkan  dari prosesmu yang berjalan tidak benar dan tidak tepat  (meski kadang kau sudah mencoba menjalaninya dengan baik).

Selamat melanjutkan prosesmu Dik. Jika kau bertanya apa yang harus kau lakukan, aku pastikan aku tak akan menjawabnya. Karena aku percaya bahwa kau sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tahu cara melawan amukan badai. Keberadaanku bersamamu, dengan tangan kita yang saling menggenggam, cukup memberikan rasa hangat untuk melawan rasa dingin, dan meyakinkanmu bahwa kau tidak sendiri saat melawan amukan badai ini.

*tulisan ini merupakan bentuk lain dari surat yang kutulis untuk adikku itu. Semua masalah tidak diutarakan secara verbal dalam tulisan ini, sangat berbeda dengan surat asli yang dikirim. Ini hanya bagian dari caraku berbagi kata-kata pada dunia kecilku. Sssstt, kami tetap punya rahasia yang tidak akan kalian tahu.

DuniaKata.yo.sinta
November 2014

 


Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com