Pages

Rabu, 26 November 2014

Tentang Lagu Tidur dan Senyum Sinta





Seseorang pernah (secara tidak sengaja) menitip lagu tidur untukku. Waktu itu tiba-tiba ia memasangkan handsfree ketelingaku, aku sedikit terheran dengan lagu yang ia putar di ponsel pintarku kali ini. Sebuah lagu dari Vega Antares berjudul “Bukan Tuk Menghilang” itu jelas kontras dengan pilihan lagu yang biasanya ia putar. “Ini lagu tidurku” tuturnya.  
 
Karena kami memutarnya lewat aplikasi soundCloud-aplikasi pemutar musik secara online-dan ponsel canggihku tak secanggih yang diharapkan; beberapa kali lagu itu terputus. Tapi ia sangat nyiyir waktu itu. Ia ingin aku mendengarkan lagu itu hingga selesai. 

Ia tertidur. Aku memutar lagu itu berkali-kali. 

jika kamu merasa sendiri disana
dengarkan suara lirihku dikeheningan
mungkin kamu akan bisa terjaga
bertemankan mimpi-mimpi indah malam
peganglah janjiku saat kamu gelisah
yakinlah semuakan indah
semua ini kulakukan untuk kita
aku pergi bukan untuk menghilang

jangan pernah teteskan airmata
karna ku tak pantas menerimanya
cobalah terima keadaan ini
aku pergi bukan untuk menghilang

Sebagai sebuah lagu bergenre pop, aku cukup menikmati lagu itu. Aku menikmatinya, selayaknya orang yang baru dikenalkan pada hal baru, tanpa pikir panjang; jangankan berpikir maksudnya mengenalkan lagu itu padaku, menelaah liriknya saja waktu itu aku tidak. Tapi ya, hidup memang tidak bisa diprediksi. Tiba-tiba sesuatu terjadi. Aku dan dia tidak lagi bisa bertemu, bercerita banyak, atau hanya sekedar untuk bertukar lagu kesukaan seperti waktu itu dan beberapa waktu sebelumnya. Entahlah, rumit juga jika dijelaskan //seperti orang mabuk yang sedang dipukuli, hanya rasa sakit dan memar yang ada ketika ia sadar// tak tahu persis sebab perkara//. Sesuatu, lain hal, dan banyak hal lainnya (yang entah) telah membuat kami tidak lagi bertemu (sudah cukup lama).

Sejak kami sudah sangat sulit bertemu. Hampir tiap malam aku mendengarkan lagu itu. Ya, lagu tidur itu. Siapapun yang membaca, pasti akan paham bahwa ia orang yang penting dalam hidupku. Kalian pernah menemukan alasan dalam hidup. Ya, dia salah satu orang yang mengajarkanku dan memberikanku alasan untuk tetap berjalan dan melanjutkan hidup. Kurasa itu cukup untuk menggambarkan betapa penting ia dalam perjalananku. Kehilangan sosok yang penting dalam hidup tentunya tidaklah semudah menghirup udara dari rongga hidung. Tapi ya sudahlah, itulah hidup. Masih perlu menyatungan potongan-potongan kecil untuk menjadikannya kepingan puzzle terakhirmu. Tak ada yang tahu dimana dan pada siapa potongan-potongan kecil itu berserakan sebelum ia menjadi kepingan puzzle terakhir, dan melengkapi gambarmu.

Aku berpikir bahwa ia memang berisyarat sebelum ia pergi dari kehidupanku. Aku tidak menyebut ini sebagai sebuah rencana, seperti pembunuh yang sudah merencakan pembunuhan. Tapi aku menyebut ini isyarat. Aku percaya masing-masing kita punya kemampuan membaca “gerak” (apa yang dimau dan dibutuhkan tubuh kita). Percayalah tak ada yang kebetulan dan tanpa alasan dimuka bumi ini. Apapun yang terjadi, apapun yang kita lakukan adalah perintah yang sah dari pikiran dan hati kita dan tentunya ada campur tangan Tuhan didalamnya. Ya, waktu itu mungkin hati dan otaknya memerintahkannya untuk segera berisyarat padaku dengan mengenalkan lagu itu, karena ia telah mampu membaca “gerak”; tentang apa yang akan ia lakukan untuk hidupnya.

Tapi beberapa kejadian belakang dihidupku, membuatku berpikir keras tentang lagu tidur itu. Dia yang menitip lagu tidur itu, memang kini berjarak dari hidupku. Pergi. Tapi aku tak tahu persis, apa kepergiannya seperti lirik lagu tidur yang tak sengaja ia titipkan itu. Dan ia juga tidak pernah berjanji seperti yang ada pada lirik lagu itu. Tidak ada janji yang bisa kupegang saat aku gelisah, yang aku tahu ia pergi.

Tapi perkara kepergian, ini bukanlah hal pertama yang terjadi dalam hidupmu, mungkin begitupun dalam hidup kalian. Bukankah hidup perkata hidup-mati, datang-pergi, ada-musnah. Jika dia mungkin sudah berisyarat untuk meninggalkanku sendiri, tapi ada banyak yang pergi tanpa aba-aba dan isyarat dalam hidupku. Ya, hidup kalian juga.

Dulu sempat waktu itu seseorang yang teramat penting dalam hidupku harus menghadapi kamar rumah sakit, selang oksigen, infus, jarum suntik, obat-obatan dan hal menakutkan lainnya yang mendekatkan ia pada kematian. Aku sempat berteriak lantang pada Tuhan, waktu itu kutulis sajak singkat dengan judul “Diam”. Namun isinya tidaklah sehening judul itu

AKU LELAH KEHILANGAN TUHAN !
YA !
AKU LELAH KEHILANGAN !

Parkiran Hitam, RS Yos Sudarso
15 November 2008

Aku sangat marah waktu itu. Aku sangat takut jika aku lagi-lagi akan kehilangan.

Satu peristiwa, dua peristiwa, peristiwa berikutnya, berikutnya, berikutnya, akhirnya membuatku mulai berpikir bijak tentang ‘kehilangan’ dan ‘kepergian’. Bukankah selama kita hidup kita akan menghadapi itu; ‘kepergian’ dan ‘kehilangan’. Bagaimana bisa menyebutnya datang, kalau tidak ada yang pergi. Bagaimana akan mendapatkan jika tidak kehilangan.

Tapi percayakah kalian, bahwa mereka yang pergi; mereka yang hilang dari kehidupanmu, tidak akan pernah benar-benar pergi dari kehidupanmu. Ya, aku paham makna lirik dari lagu tidur itu “aku pergi bukan untuk menghilang”. Tidak ada yang akan hilang dari kehidupanmu, meski ia pergi. Aku percaya ada do’a yang menyampaikan kerinduan seorang anak pada orangtuanya yang sudah tiada, rindu yang  akan membawanya pada nasehat-nasehat terdahulu sebagai bekal kehidupan hari depannya. Aku percaya ada getar yang disampikan angin pada sepasang kekasih yang sedang merindu namun tak bisa berkabar, yang masih akan membuat mereka percaya bahwa mereka masih saling menyayangi. Aku percaya ada tangis bisu yang disimpan di balik bantal oleh dua sahabat yang sangat ingin bertemu, namun terbatas ruang, dan itu akan mampu membuat mereka percaya bahwa mereka masih saling menopang. Aku percaya itu.

Ya, itu tandanya bahwa tidak ada yang benar-benar pergi dari hidupmu. Siapapun, seburuk apapun, sekelam apapun kenangan yang kau miliki bersama seseorang, ia masih ada dalam dirimu, tidak akan pernah hilang.

Seperti ia yang menitip lagu tidur itu. Aku masih percaya bahwa saat ini ia sangat dekat denganku. Ya, ia pasti mendengar saat aku berteriak kencang dalam hatiku bahwa aku rindu, seperti aku yang juga mendengar teriakan yang sama disana, meski kami saling bisu, tak bersuara. Tak apa, aku menerima kepergiannya meski ia tak sempat pamit padaku dihari terakhir kami bertemu. Bahkan ia curang. Aku masih sangat ingat hari itu. Bagaimana aku bisa marah padanya tentang pertemuan terakhir itu; ia malah tumben-tumbennya mengabulkan inginku dengan segera, membawakan rujak kesukaanku yang kuminta hari itu. Dengan bonus lagi, jus stoberi (juga kesukaanku), padahal aku tak memintanya. Bahkan ia mengizinkan aku menyoreti lengan kanannya dengan spidol, meski aku tahu persis ia tak suka gambar yang aku buat. Ya, ia curang. Ia sudah lebih dulu membujukku untuk menerima kepergiannya hari itu.

Dan entah televisi juga memiliki kemampuan membaca gerak, dan berisyarat. Secara tiba-tiba aku dikenalkan pada sebuah lagu yang waktu itu secara tidak sengaja menjadi soundtrack sebuah film (yang tidak aku tonton). Tiba-tiba telingaku seperti diseret. Aku yang sedang membaca sebuah buku di teras depan, tiba-tiba masuk ke ruang tengah, mengambil remote, dan menggonta-ganti tayangan. Jariku terhenti seketika mendengar lagu itu, bukan karena adegan romantis yang sedang ditawarkan film yang memang tidak kutonton itu. Dengan menghafal beberapa penggalan liriknya, aku langsung mengadu pada Google untuk mendapatkan judul dan penyanyi dari lagu yang kudengar. 

hari ini begitu indah, ku langkahkan kakiku
dan angin pun menanya kabarmu
mengapa kau tak di sampingku
dan aku tersenyum, mereka tertipu
ku katakan bahwa kau kan menyusulku

dan malam pun bertanya kabarmu
yang tak ada di sampingku
karena mereka pun merasakan
hehilangan cahayamu
dan aku tersenyum, mereka tertipu
ku katakan bahwa kau kan menyusulku

Ya, judulnya “Aku Tersenyum” dibawakan oleh Migi Parahita. Lagu dan penyanyi yang sama sekali tidak aku kenal sebelumnya. Tapi sejak hari itu, ini lagu tidur berikutnya yang kerap mengantarkanku pada tidur panjang tanpa mimpi. Lagu ini mengajarkan aku cara tersenyum, mengajarkan aku cara bijak berikutnya untuk memahami “kepergian” dan “kehilangan”. Meski aku percaya bahwa apa yang pergi, tidak pernah benar-benar pergi dan hilang dari kehidupanku, tapi sebagai manusia aku juga harus tahu dan bersiap; bahwa tidak semua yang pergi bisa kembali, menyusulku pada kehidupan berikutnya.

DuniaKata.yo.sinta
di penghujung November 2014

*Siapapun mereka; orangtua, saudara, teman, sahabat, mantan pacar, kekasih, bahkan musuh sekaligus. Percayalah, mereka tidak akan pernah benar-benar pergi dari kehidupanmu. Mereka pergi bukan untuk menghilang.



Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com