Pages

Minggu, 09 November 2014

Tidak Ada Kata Tersesat di Busway



Banyak yang tak paham, bagaimana perkara yang satu ini bisa terjadi padaku. Berkali-kali mereka bertanya, lalu kebingungan, bertanya lagi, dan kembali pada kebingungan yang sama. Ya, jangankan kalian, aku juga tak paham bagaimana kebodohan ini bisa bersarang di otakku, bahkan dalam waktu yang cukup lama (sampai hari ini). 

Saat waktu mengantarkanku menjadi gadis remaja, yang idealnya sedang menuju kemandirian; bangun sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, berkamar sendiri, berjalan sendiri. Saat aku mulai mengenakan seragam putih-biru, aku tersadar akan satu hal. Serentetan agenda sebagai anak remaja, yang tak lagi hanya perkara sekolah dan les saja seperti ketika masih berseragam putih-merah mengenalkanku pada banyak jalan, banyak tempat, banyak lokasi, banyak angkutan umum, banyak lampu merah. Waktu itu jugalah aku juga mulai berkenalan dengan ketakutan ini. 

Ketakutan pada jalan, ketakutan tentang kiri dan kanan, ketakutan tentang berbelok atau lurus, ketakutan akan tersesat. Ya, aku bodoh menghafal jalan. Otakku tak punya kemampuan yang baik untuk merekam memori tentang jalan. Sangat buruk. Aku hanya berani melewati rute biasa yang sudah didektekan secara tepat oleh Bunda; sekolah, gelanggang olahraga, tempat les, rumah teman dekat, dan beberapa tempat lainnya yang rutin dikunjungi. Hanya ke tempat-tempat itu aku bisa memastikan aku akan sampai dengan baik. Namun jangan harap aku akan mampu mendiktekan dengan baik rute tersebut, lidahku akan mendadak kaku kalau ada yang bertanya. Jangan harap aku bisa mengarahkan dengan baik; keluar gang, setelah itu lurus, nah ketemu pertigaan nanti belok kanan, kalau sudah ketemu pangkalan ojek belok kiri, nanti ada warung, nah dari warung itu lurus saja, hingga bertemu mesjid, tiga rumah setelah mesjid, itu dia. Percayalah !!! Aku akan pastikan siapa yang mengikuti petunjuk arah itu akan tersesat. Entahlah, kiri bisa menjadi kanan di memoriku, semua akan blur seketika dalam ingatanku, meski sudah aku tempuh.

Semua memang berjalan buruk untuk yang satu itu, banyak yang tak paham, tak sabar dan tak bisa menjadi pendamping yang baik untuk lemahku yang satu itu. Bundalah orang yang paling sabar menjadi petunjuk arah bagi kebodohanku itu. Ia akan memastikan ponselnya terisi daya yang cukup; dan menyala saat aku akan bepergian sendiri, kemanapun. Ia yang tahu cara yang tepat menjelaskan,mendiktekan, memastikan berulang-ulang tentang rute yang akan kutempuh, nyaris tak pernah nada kesal yang akan memancing airmataku berlinang (seperti yang sempat dilakukan mereka yang tak paham), meski aku harus kembali bertanya lagi, tentang rute yang mungkin baru satu menit yang lalu ia jelaskan. 

Ia akan dengan sangat baik menjelaskan dimana aku harus menunggu angkutan umum, dimana aku turun, lengkap dengan bangunan yang bisa jadi klu/tanda, kearah mana aku harus berjalan setelah turun angkutan, seberapa jauh, ya dialah google maps versi terbaik. 

Aku punya satu rahasia, yang sebentar lagi tidak akan jadi rahasia lagi. Saat aku akan segera menjadi mahasiswa, aku masih diantar Bunda, seperti hari pertama aku masuk TK atau SD; Bunda bersamaku. Hari-hari saat pendaftaran ulang sebelum proses ospek dan perkuliahan dimulai, aku seperti anak kecil yang masih dipapah orangtuanya. Bunda ada di sampingku saat aku duduk di pertama kali di angkutan umum menuju kampus itu, Bunda ada di sampingku saat aku pertama kali naik bus kampus, Bunda ada saat aku mengisi form daftar ulang, mengambil jaket almamater, dan proses lainnya. Ya, ia tahu, aku butuh itu. Otomatif saja, ia tahu apa yang aku butuhkan ketika ia tahu anaknya akan berkuliah di Universitas Andalas, kampus yang sempat mendapat penghargaan sebagai kampus termegah di Asia, yang luasnya cukup membuat nafasku terpenggal. Bahkan di tahun-tahun satu dan dua perkuliahan, aku masih terbata. Ruang kuliah yang tidak menetap di satu ruang di gedung-gedung yang berjarak antara satu sama lainnya juga sempat jadi masalah.
“Tak ada yang tak bisa”. Ya, kata itu sempat aku percaya, beragam cara sudah aku coba, kalau-kalau saja bisa jadi solusi. Mulai dari mengingat secara keras, lalu mencatat di buku kecil yang kubawa kemana-mana, sampai memotret bangunan/pohon/plang/ persimpangan yang akan memudahkanku dalam berjalan, meminta ayah yang pintar menggambar mengajari logika jalan lewat gambar, tetap saja menelpon bunda adalah solusi yang tepat saat kebingungan. 

Lalu apa yang terjadi saat ini ???


Ada yang berkenan membandingkan Padang (kota asalku) dengan Jakarta (kota yang kini aku tempati). Tentu semua menjadi akan semakin sulit di kota sebesar ini. Bunda juga tidak akan mampu jadi google maps versi terbaik untuk kota ini, meski ia tidak akan pernah berhenti menjadi “google” terbaikku . Status perantau membuatku harus berjalan kesana kemari, berkunjung ke jobfair, menjalani interview, serangkaian tes, beragam keperluan sebagai pendatang baru. Ayah dan adikku yang lebih dulu bekerja disini, juga tak akan mampu siaga 24 jam menjadi pendampingku. Untunglah, pekerjaan awal sebagai reporter televise cukup memudahkan. Keputusan untuk kos dekat kantor serta mobilitas kerjaan sehari-harinya yang difasilitasi mobil kantor lengkap dengan driver, memudahkan untuk proses awal. Aku tak perlu cemas dan ketakutan menuju lokasi peliputan. Begitupun berikutnya, kos dekat kantor hampir jadi alternatif yang pas untuk masalahku yang satu ini. 

Namun hidup bukan perkara kerjaan dan kantor saja bukan. Ada banyak tempat yang harus kukunjungi selain kantor. Ada banyak tempat yang ingin kujelajah. Aplikasi google maps di handphone canggih bukan mempermudah, tapi makin membuat kepalaku sakit harus mengaplikasikan petunjuk di gambar dengan fakta yang kudapati di jalananan. Keberanian bertanya pada orang-orang yang kutemui juga menjadi solusi buruk yang sempat membuatku tersesat beberapa kali. Ya, hingga akhirnya aku memutuskan menjadi pengguna busway yang setia. 

Busway menjadi satu-satu kendaaraan yang aku percaya akan mengantarkanku dengan cara yang benar. Tidak ada kata tersesat di busway.  Jika kau melewati shelter busway yang harusnya jadi tujuanmu, tenang, ada shelter busway berikutnya tempat turun, yang mungkin saja bisa mengantarkanmu ke shelter busway yang terlewat itu. Kalaupun kau harus menempuh jarak panjang yang harusnya bisa ditempuh dengan jarak yang lebih singkat, kau tetap akan sampai. Ya, tidak ada kata tersesat di busway. 

Busway juga mengajarkanku banyak hal. Tentang berdesakan pagi hari, tentang ketabahan melewati jembatan penyembrangan kala transit, tentang peluh manusia saat petang, dan banyak hal lainnya. Namun belakangan aku memikirkan satu hal tentang busway. Ia seperti hidup. Jika kau naik busway dari salah satu shelter, kau bisa saja akan diantarkan pada banyak tujuan, ia akan melewati banyak tempat, dan akan berhenti di banyak tempat, jika sampai maka turunlah, carilah jembatan yang akan mengantarkanmu keluar dari shelter busway itu lalu mendekatlah ke lokasi tujuanmu. Atau turunlah untuk transit dan mencari shelter berikutnya, menunggu busway berikutnya yang akan mengantarkanmu pada tujuanmu. Dan jika kau tidak tahu tujuan maka ya nikmatilah wisata busway yang akan mengatarkanmu pada banyak tempat yang bukan tujuanmu. 

Jika kau ingin sampai dengan segera, maka kau harus tahu tujuanmu, dimana kau harus berhenti, atau kau harus transit. Tidak ada kata tersesat di busway. Seperti hidup. Kau tak akan tersesat dalam hidup, karena toh pada waktunya hidup ini nantinya akan menuju satu tempat dan sampai. Namun jangan salahkan jika suatu hari waktu (memaksa) mengantarkanmu pada satu tempat (sampai) yang belum tentu menjadi tujuanmu, karena kau tak tahu tujuan saat waktu itu belum datang. Sebelum petugas busway memintamu turun pada pemberhentian terakhir, tentukanlah tujuanmu,meski tak ada kata tersesat di busway. Aku jadi paham apa makna dari perkataan yang sangat sering diucapkan Bunda bahwa “hidup harus fokus dan tahu tujuan”. 

Ya, saat ini aku mulai menikmati hal yang awalnya kusebut kebodohan ini. Aku semakin menikmati waktu-waktu berjalan sendiri. Ketakutanku akan jalan memang kontras dengan hobiku berjalan sendirian. Aku bukan ingin berkata bahwa hang out bersama teman-teman bukan hal mengasikkan, namun terkadang duduk di cafĂ© sendirian sembari membaca buku atau membuka laptop dan menulis sesuatu, duduk di taman sembari menutup kuping dengan handsfree bervolume maksimal, atau mengunjungi toko buku sendiri, mengunjungi banyak tempat baru sendirian; memberikan kenikmatan berlipat dibanding suasana heboh saat bersama oranglain. Aku memang berkali-kali harus berdebar saat aku memulai perjalanan baru sendirian. Namun tentunya itu terbayar, ketika aku berhasil sampai dengan aman ketempat yang aku lingkari di otak kecilku. Ada lega saat aku tahu di shelter busway mana aku harus berhenti atau transit. Saat sampai  di tempat yang aku tuju, ada lega yang lebih kuat dibanding debar ketakutan saat memulai perjalanan. Aku mulai percaya, bahwa aku tak akan tersesat, yang aku lakukan aku hanya harus tahu aku mau kemana, dimana berhenti atau hanya sekedar transit. Dan aku juga mulai percaya, ada banyak tanda di jalanan yang bisa membantuku untuk sampai di tempat tujuanku. Aku mungkin tak akan mempu memusnahkan lemahnya kemampuanku untuk menghafal jalan, tapi aku tahu satu hal aku bisa menjinakkannya. ***

DuniaKata.yo.sinta
November 2014



Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com