Pages

Senin, 05 Januari 2015

Pagi Senin yang Berbahagia



Tuhan memberikanku pagi Senin yang indah.
;ya, Tuhan sedang mengirimiku hal manis di awal Minggu

Bermula dari mata yang tidak terlalu susah diajak kompromi untuk bangun dan dibahasi air wudu. Di ruangku, sajadah kubentangkan. Meski ruang ini tidak terlalu besar, tapi aku selalu percaya untuk melakukan banyak hal di ruangan ini, termasuk untuk memenuhi kebutuhanku sebagai muslim. 

Membaca,menulis,berdandan,merangkai manik-manik, bersantai,kadang tidur, dan tentunya bermain dengan mereka; dua hamster yang kusapa dengan Umprit dan Umpret, kini juga sudah ada warga baru, namanya Untik. Ia satu-satunya anak yang selamat setelah dua kali Umprit melahirkan. Bukan hanya itu,saat ini juga sudah ada 18 ikan yang masih kecil-kecil. Jumlah itu setelah dua ikan mati karena aku salah memberikannya makan. Ya, dua kandang hamster dan satu aquarium ikan itu memang ada di ruangku. Jadi wajar saja, merekalah yang kujenguki setelah sholat. Masih dengan mukenah berwarna ungu yang aku kenakan, aku mengggeser posisi, mendekati kandang Umprit, Umpret dan Untik. Tersentak bukan main, kandang Umprit dan Umpret kosong. Betina dan jantanku itu berhasil membuka pintu kandangnya yang padahal sudah aku sematkan jepitan di pintu kandangnya, agar mereka tak bisa mengangkat dan menggeser pintu itu ke atas. Bergegas kelepas mukenah, berdiri dari dudukku, mencari ke sudut-sudut rak, meja, tumpukan buku  dan tas tempat mereka biasa bersembunyi saat sesekali kulepas. Mereka tak ada disana. Kubayangkan kemungkinan terburuk, ia keluar dari ruang itu. Kulihat pintu yang mungkin ia lewati, kuukur space ruang di bawah pintu itu. Aku panik, entah kenapa pintu rumah ini dibuat berjarak dari dasar lantai. Kubuka pintu itu, membayangkan ia berhasil melewati pintu demi pintu dan sampai pada ruang paling depan rumahku, yakni teras luar yang langsung berhadapan dengan jalan. Ah, Umprit...Umpret. 

10 menit berlalu, semua sudut ruangku sudah kubuat berantakan karena kepanikanku. Aku juga sudah cukup putus asa tak menemukannya di teras depan rumah. Ah, kenapa aku tak menyediakan kemungkinan untuk mencarinya ke ruang lain, di dalam. Kenapa aku hanya terfokus pada ruangku, dan keluar. Ya, binggo. Ia ada di rak pakaianku. Entah dari kapan mereka sudah berada satu kamar denganku. Lega. Semua kecemasanku ikut berpulang ke kandang mereka. Kepanikan kehilangan mereka, hampir mirip dengan perasaan ketika mendapatkan nilai buruk dan harus remedial di semua mata pelajaran, atau seperti dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang pada mata kuliah statistik dan bahasa inggris.

Ah.Mereka memang bagian penting dalam hidupku saat ini. Bagaimana tidak, sejak memutuskan untuk tidak memelihara kucing, hamster adalah hewan yang paling kuincar untuk kupelihara. Memendam hampir tiga tahun keinginan untuk memiliki hamster, sejak Agustus merekalah yang menjadi teman bermain. Mereka yang pertama kujenguk saat aku bangun, mereka yang terlebih dahulu kumandikan, padahal aku masih bersama aroma kasur dan bantal. Mereka yang kucari ketika pulang bepergian. Bahkan saat aku punya peliharaan baru, ikan-ikan kecil yang lihai memanjakan mata dengan lekuk tubuh dan ayun gemulai mereka di air yang menenangkan,aku masih jauh lebih sayang dengan hamster//hewan yang sering disebut tikus oleh tetanggaku yang sok tahu//. 

Entah apa maksud Tuhan menggerakkan kaki-kaki kecil Umprit dan Umpret hingga ia keluar kandang. Hmmm, aku tersentak. Beberapa hari ini aku memang agak sedikit acuh pada mereka. Seperti tak bersebab, tak ada kesibukan yang sedang memaksaku untuk kehilangan waktu, tak ada hal baru yang lebih menarik daripada mereka, tak ada ulah mereka yang menjengkelkan, tapi …ya entahlah, agak enggan saja bermain dengan mereka, mengurusi mereka seperti biasa, atau memberikan mereka asupan makanan ekstra seperti sebelumnya. Dan kehilangan mereka dalam seperkian menit itu memang membuatku terdiam lebih lama di awal hari, di awal minggu. Kehilangaan di pagi Senin,di awal minggu yang membawaku pada banyak perkara.

Tuhan sedang memberikan pagi Senin yang indah. Tuhan sedang menyapaku di awal Minggu. Tuhan menjawab semua celotehan, omelan, keluhan, kemarahan, kesakitan yang beberapa saat ini memang sering aku adukan. Aku sedang kehilangan dua hal terbesar dalam hidupku saat ini. Mungkin bukan pada bagian tulisan ini kurinci, tapi kata terbesar, semoga akan membuat siapa saja paham bahwa itu penting bagiku. Aku mengutuk keadaan, aku mengutuk kehilangan itu berkali-kali. Hingga aku lupa. Apa yang sedang bersamaku, apa hal yang sudah kudapatkan dan sampai hari ini masih diizinkan Tuhan untuk kumiliki. 

Aku tersenyum di depan kandang Umprit dan Umpret. Kuhirup nafas lega, yang beraroma rasa syukur yang manis. Tuhan menjawab dan menegurku. Kenapa musti mengutuk yang hilang itu berkali-kali. Padahal aku masih punya banyak hal besar untuk kujaga. Aku tahu satu hal hari ini, bahwa yang hilang belum tentu akan kembali ke sisiku, meski aku mengutuknya sekeras mungkin, seperti Ibu yang mengutuk malin kundang menjadi batu. Tapi apa yang aku punya, masih menyisakan kemungkinan manis untuk tidak pergi, menjauh dan mengenalkanku pada kehilangan berikutnya. Mereka masih bersamaku. Masihkah aku lalai menjaga apa yang kini bersamaku ?

Tuhan sudah memberikan pagi Senin yang indah; awal minggu yang sejuk. Semua tergantung bagaimana aku melanjutkan hari berikutnya, hingga minggu ini berjalan baik. Begitupun minggu-minggu berikutnya. 


DuniaKata.yo.sinta

Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com