Pages

Minggu, 09 November 2014

Dik, Hati itu Menyimpan Banyak Rahasia



Hidup tidak akan jalan di tempat. Ia akan mengantarkan kita pada banyak proses.
Proses akan menjanjikanmu kegagalan seperti ia menjanjikan kesuksesan,
menjanjikan kesedihan seperti ia menjanjikan kebahagiaan,
dan menjanjikan kekecewaan seperti ia menjanjikan kepuasan.

Ya, kekecewaan. Mungkin tak satupun manusia di muka bumi ini yang tidak pernah kecewa. Entah kapan, Entah karena apa, entah kerena siapa, yang jelas kecewa bukanlah hal yang menyenangkan. Bukan hal yang ditunggu di saat pagi di awal hari, bukan yang ditunggu di hari senin di awal minggu, bukan hal yang ditunggu di tanggal 1 januari di awal tahun.
Ya, kekecewaaan adalah hal yang kerap mencabik-cabik hari,
memporak porandakan hati, dan merusak kerja otak secara pasti.

Ini kali berikutnya ia mengeluh tentang harinya yang tak berjalan baik. Dia seseorang yang sudah aku anggap Adik (meski di darahku dan darahnya tak mengalir darah dari Ibu dan Bapak yang sama). Namun kali ini ada kegelisah yang berbeda nampaknya, harinya sedang benar-benar garang tampaknya. Tidak sekedar pesan pendek, tidak sekedar chat di ponsel pintar atau akun pribadi. Bahkan ia tak berani bersuara, tiga surat ia kirimkan, tentu di zaman secanggih ini tak perlu berkirim surat lewat pos; kecuali ingin menikmati sensasinya atau memang sedang diribetkan dengan proses administrasi.

Gelisahnya adalah rahasia kami. Jawabanku juga rahasia kami. Ssssssst, kami berdua sudah berjanji, bahwa kita akan punya rahasia baru; tentang gelisahnya kali  ini. Kepada yang dikenal atau tidak dikenal, kami sudah berjanji bahwa ini akan jadi rahasia. Tiga lembar surat yang ia kirimkan dalam waktu yang berbeda, aku balas dengan tujuh lembar surat yang kukirim pada suatu malam, setelah ia menunggu lebih kurang seminggu untukku bisa menelaah terang tentang gelisahnya, dan bersiap dalam waktu yang cukup lama agar aku tahu cara yang tepat menakhlukan sendunya.

Aku kirimkan surat itu. Lebih kurang 15 menit ia hening tak berkabar. Lalu kemudian kalimat “secepatnya aku akan membalas suratmu, kak. Rinduku terobati, tanyaku berjawab,” masuk ke chat salah satu akun pribadiku. Kalimat itu membuatku berpikir ternyata kata-kataku cukup ampuh untuk membuatnya memahami arti kekecewaan. Aku rasa kata-kataku mampu membuat langkah diamnya beranjak dari rasa sakit yang sedang mengamuk di dalam hatinya. Maka aku putuskan untuk menulis tulisan ini; agar kami tetap punya rahasia, namun aku tetap punya cara berbagi agar dunia tahu, ya, tentang rahasia yang disimpan setiap kata.
***

Dik, hati itu menyimpan banyak rahasia. Aku paham benar bagaimana cara hati menjaga satu persatu rahasia yang kita titipkan padanya. Seberapun kita berkata bahwa kita baik-baik saja, apa yang disimpan hati akan tetap sama. Seberapun kita berkata bahwa kita ikhlas menerima/melepaskan/memaafkan, hati akan tetap penyimpan rahasia bahwa ada rasa sakit disana. Ya Dik, hati memang lihai menyimpan banyak rahasia. Termasuk untuk perkata ikhlasmu kali itu. Seberapapun pada waktu sebelumnya, kau berkata kau ikhlas menerima hal buruk/hal mengecewakan yang terjadi pada dirimu.Tapi akhirnya, hari ini (hari depan-dari harimu waktu lampau itu) kembali menguapkan kejujuran dari dalam hatimu, menerjemahkan rahasia yang masih saja kau simpan sejak hari itu kau berkata kau kecewa. 

Waktu itu, kau mencoba menerima apa yang terjadi. Setelah berpikir keras, merintih sekencang-kencangnya, mengadu dengan berapi-api padaku, kau akhirnya tetap berjalan ke depan, melanjutkan langkahmu, dan kau berhasil beranjak dari kekecewaan. Tapi ternyata sebagai kakak, aku lupa memberikan pelajaran ini padamu. Tentang rahasia hati. Tentang hati yang setia pada rahasia; menjaga apa hal pertama yang kau titipkan padanya. Seperti kau sudah jatuh cinta pada seseorang. Kau menyodorkan hal pertama padanya//pada hati; bahwa kau sayang; lalu jatuh cinta padanya, kau cinta dia. Kalaupun berikutnya hal buruk terjadi, lantas   kau mengenalkan pada rasa sakit, kau mulai pelan-pelan mengenalkan rasa benci, dendam, amarah padanya. Tapi hati akan setia pada rahasia yang sudah kau titipkan padanya. Seberapapun kau belajar membencinya, menjauh darinya, tak ingin melihatnya lagi, tapi hatimu akan tetap setia pada rahasia yang sudah kau perkenalkan pertama kali padanya; kau tetap akan mencintainya. Entah kau harus, mencintainya dalam rasa benci yang menjadi-jadi.

Hari itu ketika kau berkata, bahwa kau kecewa, aku tahu persis bahwa rasa ini juga yang sudah kau titipkan pada hatimu. Meski hari itu kau bangkit dari rasa kecewamu, tapi seperti yang kukatakan tadi, bahwa hati teramat pandai menyimpan rahasia Dik. Hari ini kau gelisah lagi, ia kambuh lagi, rasa kecewa itu kembali mengamuk. Menelan semua kata “tak apa-apa”, “aku bisa”, “aku menerimanya” dan kata-kata berisi amunisi semangat lainnya yang sempat terlontar hari itu. Hatimu tak bisa mengubah rahasia; bahwa kau tak bisa menerima hal buruk yang sedang dihadapkan orang lain padamu.

Ya, aku memang lelai hari itu aku lupa memberikanmu pelajaran tentang ini. Tentang hati, rahasia, serta penawar yang dimiliki hati. Tapi tak ada kata terlambat untuk aku yang menyayangimu. Aku bersyukur, kau masih datang dan mempercayakan gelisah itu menjadi bagian dari gelisahku juga, hingga hari ini aku bisa melanjutkan pelajaran ini untukmu, Dik.

Dik, aku ingin kau bersyukur. Bahwa hari ini kau sudah ditampar, kadang kita perlu merasakan rasa sakit agar kita akan bergegas mencari rasa “manis” untuk penyembuh, dan rasa manis itu (kebahagiaan) akan bisa kau pahami secara utuh, karena kau sudah tahu rasa sakit. Namun bersyukur, memang tak semudah  yang aku menuliskannya di atas. Ada proses belajar untuk ikhlas, atau kita sederhanakan; belajar menerima. Mengamini, bahwa tamparan itu karena kesalahan kita, bukan perkara rasa sakit hati/ kebencian/ dendam/ketidaksukaan/orang lain atau hal buruk lainnya.

Kau pasti akan berkata, bagaimana cara menerima (menikmati) tamparan? Karena itu adalah hal buruk yang menyakitkan, bahkan memalukan. Tapi seperti yang aku bilang padamu tadi, bahwa lagi-lagi hati sangat dekat dengan rahasia Dik, hati menyimpan banyak rahasia. Termasuk untuk hal yang satu itu, ada zat dalam hati yang akan menjadi “penawar/penyejuk” untuk tamparan itu. Jika kau bertanya dimana zat itu Kak ? Kau yang tahu letaknya, hati itu milikmu, kau yang hafal pada ruang mana kau menyimpan zat itu. Ruangmu bukan ruangku atau siapa saja, begitu juga sebaliknya, bisa saja kita menaruhnya pada posisi yang berbeda. Bukankah manusia istimewa karena gumpalan yang kita sebut “hati” itu Dik. Maka tidak salahlah hati akan menyimpan banyak rahasia-termasuk hal baik itu. Aku percaya, kau bisa menemukannya.

Aku sedang berusaha keras memahami gelisahmu. Aku sangat paham kau kecewa. Persis seperti siswa yang tidak mendapat rangking di kelas, padahal ia merasa sudah mengerjakan latihan, PR, dan ujian dengan sangat baik. Persis seperti calon mahasiswa yang tidak lulus SPMB, padahal ia sudah latihan banyak soal, ikut bimbel dengan sangat baik. Persis seperti laki-laki yang ditolak cintanya, padahal ia sudah mengirimkan banyak puisi dan kembang, serta memberikan perhatian dengan baik untuk gadis yang ditaksirnya. (semoga aku menerjemahkan secara tepat kekecewaanmu). Kau masih gagal padahal kau sudah merasa memberikan semua hal baik, dan berusaha dengan baik. Namun ada hal yang lagi harus kamu pahami dek, baik belum tentu benar dan tepat. Apa bunga yang diberikan lelaki pada perempuan yang ia taksir itu akan membuatnya tersenyum ? Kalau ternyata si perempuan alergi bunga. 

Lantas apa ukuran benar dan tepat. Entahlah,ia punya takaran ganjil yang masih sukar kita hitung Dik. Tapi sebagai manusia kau punya akal dan pikiran. Jika jalan yang kau tumpuh, menghadapkanmu pada jalan buntu, maka aku yakin, naluri manusiamu akan membuatnya mencari jalan lain, berbalik, merubah arah, dan berusaha menemukan jalan yang akan membawamu pada tempat yang kau sebut; sampai. Begitupun kali ini, jika kau masih gagal pada proses ini, izinkan proses berikunya mengantarkanmu pada kesuksesan. Seperti yang sering aku katakana; hidup tidak akan jalan di tempat. Ia akan mengantarkan kita pada banyak proses. Proses akan menjanjikanmu kegagalan seperti ia menjanjikan kesuksesan, menjanjikan kesedihan seperti ia menjanjikan kebahagiaan, dan menjanjikan kekecewaan seperti ia menjanjikan kepuasan. Jika proses ini menawarkan kekecewaan padamu, bukankah pada proses berikutnya (kau sedang) dihadapkan pada janjinya untuk menawarkan kepuasan. Ya, kecuali kau sedang memilih untuk tidak melanjutkan proses berikutnya, dan memilih berdiam pada kekecewaan yang sudah dihadiahkan  dari prosesmu yang berjalan tidak benar dan tidak tepat  (meski kadang kau sudah mencoba menjalaninya dengan baik).

Selamat melanjutkan prosesmu Dik. Jika kau bertanya apa yang harus kau lakukan, aku pastikan aku tak akan menjawabnya. Karena aku percaya bahwa kau sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tahu cara melawan amukan badai. Keberadaanku bersamamu, dengan tangan kita yang saling menggenggam, cukup memberikan rasa hangat untuk melawan rasa dingin, dan meyakinkanmu bahwa kau tidak sendiri saat melawan amukan badai ini.

*tulisan ini merupakan bentuk lain dari surat yang kutulis untuk adikku itu. Semua masalah tidak diutarakan secara verbal dalam tulisan ini, sangat berbeda dengan surat asli yang dikirim. Ini hanya bagian dari caraku berbagi kata-kata pada dunia kecilku. Sssstt, kami tetap punya rahasia yang tidak akan kalian tahu.

DuniaKata.yo.sinta
November 2014

 


Tidak Ada Kata Tersesat di Busway



Banyak yang tak paham, bagaimana perkara yang satu ini bisa terjadi padaku. Berkali-kali mereka bertanya, lalu kebingungan, bertanya lagi, dan kembali pada kebingungan yang sama. Ya, jangankan kalian, aku juga tak paham bagaimana kebodohan ini bisa bersarang di otakku, bahkan dalam waktu yang cukup lama (sampai hari ini). 

Saat waktu mengantarkanku menjadi gadis remaja, yang idealnya sedang menuju kemandirian; bangun sendiri, mandi sendiri, makan sendiri, berkamar sendiri, berjalan sendiri. Saat aku mulai mengenakan seragam putih-biru, aku tersadar akan satu hal. Serentetan agenda sebagai anak remaja, yang tak lagi hanya perkara sekolah dan les saja seperti ketika masih berseragam putih-merah mengenalkanku pada banyak jalan, banyak tempat, banyak lokasi, banyak angkutan umum, banyak lampu merah. Waktu itu jugalah aku juga mulai berkenalan dengan ketakutan ini. 

Ketakutan pada jalan, ketakutan tentang kiri dan kanan, ketakutan tentang berbelok atau lurus, ketakutan akan tersesat. Ya, aku bodoh menghafal jalan. Otakku tak punya kemampuan yang baik untuk merekam memori tentang jalan. Sangat buruk. Aku hanya berani melewati rute biasa yang sudah didektekan secara tepat oleh Bunda; sekolah, gelanggang olahraga, tempat les, rumah teman dekat, dan beberapa tempat lainnya yang rutin dikunjungi. Hanya ke tempat-tempat itu aku bisa memastikan aku akan sampai dengan baik. Namun jangan harap aku akan mampu mendiktekan dengan baik rute tersebut, lidahku akan mendadak kaku kalau ada yang bertanya. Jangan harap aku bisa mengarahkan dengan baik; keluar gang, setelah itu lurus, nah ketemu pertigaan nanti belok kanan, kalau sudah ketemu pangkalan ojek belok kiri, nanti ada warung, nah dari warung itu lurus saja, hingga bertemu mesjid, tiga rumah setelah mesjid, itu dia. Percayalah !!! Aku akan pastikan siapa yang mengikuti petunjuk arah itu akan tersesat. Entahlah, kiri bisa menjadi kanan di memoriku, semua akan blur seketika dalam ingatanku, meski sudah aku tempuh.

Semua memang berjalan buruk untuk yang satu itu, banyak yang tak paham, tak sabar dan tak bisa menjadi pendamping yang baik untuk lemahku yang satu itu. Bundalah orang yang paling sabar menjadi petunjuk arah bagi kebodohanku itu. Ia akan memastikan ponselnya terisi daya yang cukup; dan menyala saat aku akan bepergian sendiri, kemanapun. Ia yang tahu cara yang tepat menjelaskan,mendiktekan, memastikan berulang-ulang tentang rute yang akan kutempuh, nyaris tak pernah nada kesal yang akan memancing airmataku berlinang (seperti yang sempat dilakukan mereka yang tak paham), meski aku harus kembali bertanya lagi, tentang rute yang mungkin baru satu menit yang lalu ia jelaskan. 

Ia akan dengan sangat baik menjelaskan dimana aku harus menunggu angkutan umum, dimana aku turun, lengkap dengan bangunan yang bisa jadi klu/tanda, kearah mana aku harus berjalan setelah turun angkutan, seberapa jauh, ya dialah google maps versi terbaik. 

Aku punya satu rahasia, yang sebentar lagi tidak akan jadi rahasia lagi. Saat aku akan segera menjadi mahasiswa, aku masih diantar Bunda, seperti hari pertama aku masuk TK atau SD; Bunda bersamaku. Hari-hari saat pendaftaran ulang sebelum proses ospek dan perkuliahan dimulai, aku seperti anak kecil yang masih dipapah orangtuanya. Bunda ada di sampingku saat aku duduk di pertama kali di angkutan umum menuju kampus itu, Bunda ada di sampingku saat aku pertama kali naik bus kampus, Bunda ada saat aku mengisi form daftar ulang, mengambil jaket almamater, dan proses lainnya. Ya, ia tahu, aku butuh itu. Otomatif saja, ia tahu apa yang aku butuhkan ketika ia tahu anaknya akan berkuliah di Universitas Andalas, kampus yang sempat mendapat penghargaan sebagai kampus termegah di Asia, yang luasnya cukup membuat nafasku terpenggal. Bahkan di tahun-tahun satu dan dua perkuliahan, aku masih terbata. Ruang kuliah yang tidak menetap di satu ruang di gedung-gedung yang berjarak antara satu sama lainnya juga sempat jadi masalah.
“Tak ada yang tak bisa”. Ya, kata itu sempat aku percaya, beragam cara sudah aku coba, kalau-kalau saja bisa jadi solusi. Mulai dari mengingat secara keras, lalu mencatat di buku kecil yang kubawa kemana-mana, sampai memotret bangunan/pohon/plang/ persimpangan yang akan memudahkanku dalam berjalan, meminta ayah yang pintar menggambar mengajari logika jalan lewat gambar, tetap saja menelpon bunda adalah solusi yang tepat saat kebingungan. 

Lalu apa yang terjadi saat ini ???


Ada yang berkenan membandingkan Padang (kota asalku) dengan Jakarta (kota yang kini aku tempati). Tentu semua menjadi akan semakin sulit di kota sebesar ini. Bunda juga tidak akan mampu jadi google maps versi terbaik untuk kota ini, meski ia tidak akan pernah berhenti menjadi “google” terbaikku . Status perantau membuatku harus berjalan kesana kemari, berkunjung ke jobfair, menjalani interview, serangkaian tes, beragam keperluan sebagai pendatang baru. Ayah dan adikku yang lebih dulu bekerja disini, juga tak akan mampu siaga 24 jam menjadi pendampingku. Untunglah, pekerjaan awal sebagai reporter televise cukup memudahkan. Keputusan untuk kos dekat kantor serta mobilitas kerjaan sehari-harinya yang difasilitasi mobil kantor lengkap dengan driver, memudahkan untuk proses awal. Aku tak perlu cemas dan ketakutan menuju lokasi peliputan. Begitupun berikutnya, kos dekat kantor hampir jadi alternatif yang pas untuk masalahku yang satu ini. 

Namun hidup bukan perkara kerjaan dan kantor saja bukan. Ada banyak tempat yang harus kukunjungi selain kantor. Ada banyak tempat yang ingin kujelajah. Aplikasi google maps di handphone canggih bukan mempermudah, tapi makin membuat kepalaku sakit harus mengaplikasikan petunjuk di gambar dengan fakta yang kudapati di jalananan. Keberanian bertanya pada orang-orang yang kutemui juga menjadi solusi buruk yang sempat membuatku tersesat beberapa kali. Ya, hingga akhirnya aku memutuskan menjadi pengguna busway yang setia. 

Busway menjadi satu-satu kendaaraan yang aku percaya akan mengantarkanku dengan cara yang benar. Tidak ada kata tersesat di busway.  Jika kau melewati shelter busway yang harusnya jadi tujuanmu, tenang, ada shelter busway berikutnya tempat turun, yang mungkin saja bisa mengantarkanmu ke shelter busway yang terlewat itu. Kalaupun kau harus menempuh jarak panjang yang harusnya bisa ditempuh dengan jarak yang lebih singkat, kau tetap akan sampai. Ya, tidak ada kata tersesat di busway. 

Busway juga mengajarkanku banyak hal. Tentang berdesakan pagi hari, tentang ketabahan melewati jembatan penyembrangan kala transit, tentang peluh manusia saat petang, dan banyak hal lainnya. Namun belakangan aku memikirkan satu hal tentang busway. Ia seperti hidup. Jika kau naik busway dari salah satu shelter, kau bisa saja akan diantarkan pada banyak tujuan, ia akan melewati banyak tempat, dan akan berhenti di banyak tempat, jika sampai maka turunlah, carilah jembatan yang akan mengantarkanmu keluar dari shelter busway itu lalu mendekatlah ke lokasi tujuanmu. Atau turunlah untuk transit dan mencari shelter berikutnya, menunggu busway berikutnya yang akan mengantarkanmu pada tujuanmu. Dan jika kau tidak tahu tujuan maka ya nikmatilah wisata busway yang akan mengatarkanmu pada banyak tempat yang bukan tujuanmu. 

Jika kau ingin sampai dengan segera, maka kau harus tahu tujuanmu, dimana kau harus berhenti, atau kau harus transit. Tidak ada kata tersesat di busway. Seperti hidup. Kau tak akan tersesat dalam hidup, karena toh pada waktunya hidup ini nantinya akan menuju satu tempat dan sampai. Namun jangan salahkan jika suatu hari waktu (memaksa) mengantarkanmu pada satu tempat (sampai) yang belum tentu menjadi tujuanmu, karena kau tak tahu tujuan saat waktu itu belum datang. Sebelum petugas busway memintamu turun pada pemberhentian terakhir, tentukanlah tujuanmu,meski tak ada kata tersesat di busway. Aku jadi paham apa makna dari perkataan yang sangat sering diucapkan Bunda bahwa “hidup harus fokus dan tahu tujuan”. 

Ya, saat ini aku mulai menikmati hal yang awalnya kusebut kebodohan ini. Aku semakin menikmati waktu-waktu berjalan sendiri. Ketakutanku akan jalan memang kontras dengan hobiku berjalan sendirian. Aku bukan ingin berkata bahwa hang out bersama teman-teman bukan hal mengasikkan, namun terkadang duduk di café sendirian sembari membaca buku atau membuka laptop dan menulis sesuatu, duduk di taman sembari menutup kuping dengan handsfree bervolume maksimal, atau mengunjungi toko buku sendiri, mengunjungi banyak tempat baru sendirian; memberikan kenikmatan berlipat dibanding suasana heboh saat bersama oranglain. Aku memang berkali-kali harus berdebar saat aku memulai perjalanan baru sendirian. Namun tentunya itu terbayar, ketika aku berhasil sampai dengan aman ketempat yang aku lingkari di otak kecilku. Ada lega saat aku tahu di shelter busway mana aku harus berhenti atau transit. Saat sampai  di tempat yang aku tuju, ada lega yang lebih kuat dibanding debar ketakutan saat memulai perjalanan. Aku mulai percaya, bahwa aku tak akan tersesat, yang aku lakukan aku hanya harus tahu aku mau kemana, dimana berhenti atau hanya sekedar transit. Dan aku juga mulai percaya, ada banyak tanda di jalanan yang bisa membantuku untuk sampai di tempat tujuanku. Aku mungkin tak akan mempu memusnahkan lemahnya kemampuanku untuk menghafal jalan, tapi aku tahu satu hal aku bisa menjinakkannya. ***

DuniaKata.yo.sinta
November 2014



Sabtu, 01 November 2014

Nanti, Kau Pasti Akan Sendiri



Tak ada yang akan mampu berbohong, jika jauh dari orang yang disayangi adalah bagian dari rasa sakit terburuk yang pernah terlahir ke muka bumi. Entah itu karena orang yang (nyata) sudah mengambil bagian penting dalam hidupmu-seperti ibu, ayah, adik, kakak, teman atau kekasih.  Ataupun mereka yang hanya kau simpan dalam bola matamu, yang diam-diam kau titipkan rindu, kau kirimkan doa dan kau puja dalam diam yang manis. Jauh dari mereka adalah rasa sakit yang bukan main; perih saat kau mengingat, pilu saat kau mengeja namanya pelan, dan ngilu saat kau utarakan rindu; meski sayup tak terdengar.
-kupanggil ia; Rindu-

Ya, hari demi hari yang kau jalani dalam hidup pasti akan mengantarkanmu pada banyak sosok, disengaja atau tidak. Sesepi apapun kehidupanmu, pasti kau tak sendiri. Ada lalulalang orang yang mendampingi pada banyak peristiwa, melemahkan atau menguatkanmu untuk setia bersama hidup. Lalulalang orang yang juga mengantarkanmu pada banyak proses; diinginkan atau tidak ia, penting atau tidak penting ia, berarti atau tidak berarti ia, menyenangkan atau menjengkelkan ia, tapi merekalah yang sedang (setia) lalulalang dalam kehidupanmu yang masih akan berjalan dan sedang menggiringmu perlahan pada kata “sampai”; tujuan akhir dari hidupmu. Ya, aku masih percaya, sesepi apapun kehidupan yang kita miliki, kita tak sendiri.

Diantara lalulalang sosok/orang/rupa/aroma/nafas itu kau pasti menaruh harap pada, satu, dua, tiga, atau lebih dari mereka untuk mau singgah dan bertahan lama pada tiap amukan badai yang kerap berkelahi dengan hari-harimu. Tak ada anak yang mau kehilangan orangtuannya, kehilangan sosok yang akan ia panggil dengan sapaan “Ibu”-“Ayah”. Tak ada kakak yang ingin adiknya menjauh, tak ada adik yang ingin kakaknya tak lagi bisa jadi tempat ia berlindung dari garangnya hari. Tak ada yang ingin kesepian karena kehilangan sosok yang sudah ia labeli dengan kata “sahabat”. Tak ada kekasih yang ingin patah hati. Ya, merekalah orang-orang yang kerap kau titipkan “harapan” agar mereka bertahan lama untuk melihat prosesmu. Tapi ya, itu adalah perkara harapan. 

Bukankah harapan akan mendekatkanmu pada kenyataan buruk, seperti halnya ia mendekatkanmu pada apa yang sedang kau harapkan. Tak ada yang tahu apa yang disimpan waktu untuk masing-masing harapan. 

Semua mungkin saja terjadi tidak seperti apa yang diharapankan; lebih baik atau lebih buruk. Semua bisa saja tak sesuai harapan. Bisa saja mereka yang kau harapkan ada dan hadir malah akan mengantarkanmu pada kesepian panjang yang tumbuh dan beranak pinak dari rindu yang tak usai. Rindu tak bisa bersamanya, tak bisa mendengar suaranya, tak bisa melihatnya, bahkan untuk berkata “rindu” saja kau “bisu”. Ya, dari rindulah pesakitan dan kesepian kerap menjalar. 

Aku memang percaya bahwa; sesepi apapun kehidupan yang kita miliki, kita tak sendiri. Tapi jauh dibalik percaya itu, aku meyakini satu hal; “nanti, kau pasti akan sendiri”. Kau tak akan bisa memboyong mereka semua di garis akhir, di garis “finish” kehidupanmu. Seperti seorang pelari. Ada pelatih yang sedianya menjadi orang paling lantang berteriak saat latihan di hari-hari sebelum perlombaan. Atau bahkan ia masih saja menjadi orang yang teriaknya paling lantang saat sang pelari sudah memasuki arena perlombaan dan mengayunkan kakinya dengan sekuat tenaga-sekencang-kencangnya. Atau jauh di lubuk hati sang pelari, ada ibunya, ayahnya, saudaranya, temanya, kekasihnya, yang menjadi alasannya berlari. Namun tetap sang pelari akan tetap berlari sendiri di arena perlombaan, dan jika berhasil, ia juga tak bisa memboyong mereka yang ada dibalik keberhasilan itu untuk memutus bentangan tali/pita di garis finish sebagai pertanda ia menang. Cukup senyum yang kerap berbinar di tribun penonton, pertanda bahwa mereka ikut menjadi bagian dari kemenangan itu. Ya, aku percaya, nanti kita pasti sendiri.

Di balik harimu yang ramai; dipenuhi banyak orang, kau sebenarnya sendiri. Sekeras apapun mereka mengajarkanmu tentang hidup, mendiktemu tentang semua yang baik, menjauhkanmu dari hal buruk, menguatkanmu saat kau jatuh,  tapi semua akan berpulang pada dirimu. Karena hidup milik masing-masing. Dalam hidup kau tak diizinkan berduet seperti di pentas dangdut. Dalam hidup kau juga tak diizinkan menjadi duo atau grup seperti dalam festival musik yang megah, meski hidup hampir mirip dengan pentas dangdut yang heboh dan festival musik yang riuh. Sedianya kau tetap akan menjadi single fighter, hingga nanti kau akan menjadi  single winner atau single loser.

Percayalah, sekeras apapun mereka yang kerap kau rindukan itu memberikan dan mendoakan yang terbaik bagi hidupmu, tapi Tuhan akan lebih percaya pada usaha dan  doa-doamu.
Teruslah menaruh harap dan menjaga rindu pada mereka, tapi belajar keraslah untuk percaya bahwa kesepian panjang tak lebih penting dari memaknai hidup  yang  lambat laun sedang mengantarkanmu pada kesendirian. Walaupun kau tak mampu berbohong bahwa jauh dari orang yang disayangi adalah bagian dari rasa sakit terburuk yang pernah terlahir ke muka bumi, tapi kau harusnya tak perlu merasa canggung dan enggan karena nanti kau juga akan sendiri. 

Kau hanya perlu tahu cara menikmati rindu, sembari menjadi single fighter untuk hidupmu. 

DuniaKata.yo.sinta
di awal November 2014

*Tulisan ini untuk seseorang yang telah mengajarkan banyak hal dalam hidupku hampir satu tahun belakangan. Tulisan ini, juga hasil belajarku dari sosoknya yang teramat cerdas (hingga sangat jarang bisa ”kutakhlukkan” keliarannya berpikir dan bertindak). Meski kali ini ia memberikan cara belajar yang berbeda; tidak dari diskusi panjang  atau tidak dari perdebatan yang kerap tak ber-ending. Aku (masih) akan berterimakasih. (masih) ia yang memberikan banyak pelajaran baru untuk hidupku, meski (bukan lagi) ia yang sedang berdialog dengan mataku seperti waktu-waktu sebelumnya.  

Terimakasih telah mengajarkanku untuk bisa berjalan sendiri.
Meski aku belum tahu, aku sampai atau tidak. Aku menang atau kalah.

Selasa, 14 Oktober 2014

“mungkin rencana Tuhan, dugaku”

Aku selalu menikmati perasaan kasmaran yang dikirimkan Tuhan.
Bahkan saat rasa itu berubah menjadi rasa sakit; karena rindu yang tak kunjung bisa kukendalikan.

Pernah kalian melihat tapi tak bisa mendekat, lalu menyentuhnya. Mendengar tapi tak bisa apa-apa. Berdekatan tapi tak bisa saling dekap, atau bahkan untuk saling bertatap mata. Rindu, senandungkanlah ia berkali-kali ketika kau dijebak mimpi buruk itu.

Ini bukan cerita tentang patah hati. Bukan tentang cinta yang tak sampai. Atau bukan pula tentang cinta yang tak berbalas. Ini tentang sesuatu yang aku yakini dekat. Namun jauh saat aku mendekat.

“mungkin rencana Tuhan, dugaku”

Sebagai perempuan kita sering menduga-duga saat setiap kali kita diizinkan untuk jatuh cinta. Menduga bahwa dia pasangan yang dikirim Tuhan untuk menghabiskan banyak waktu dari waktu singkat yang disediakan Tuhan di bumi. Lalu menduga bahwa dia yang akan menghabiskan waktu berikutnya, di Surga kelak.

Kerap kali kita menduga dengan sangat nyinyir bahwa dialah pemilik tulang rusuk yang menjelma menjadi kita. Hingga lalu kemudian, dia menghilang. Kita usai menduga.

Namun kita kembali menduga ketika dia tergantikan oleh dia, dia, dia, dan dia berikutnya. Kita tak kunjung usai menduga bahwa dia yang berikutnya juga dia yang akan menjadi laki-laki yang idealnya melindungi matamu dari airmata yang mengganas, dari gelisah yang mengamuk, dan dari rasa sakit yang meradang.

Kita kerap menyisakan kemungkinan setelah kita dihadapkan pada busuknya keadaan, pahitnya kegagalan, sakitnya patah hati, dan tajamnya kenangan. Kita masih menyisakan kemungkinan untuk dugaan-dugaan berikutnya. Kita sangat jarang takut untuk kembali menduga.Kita kerap memilih untuk melanjutkan dugaan, bahwa dia yang berikutnya adalah dia; pasangan yang akan membaca koran di beranda rumah impianmu, saat kau sedang asik menyirami tanaman di halaman rumahmu yang penuh bunga, dengan anak-anak yang sedang bersepeda di teras depan, yang tak lepas dari pandanganmu dan lelakimu itu.

Ya, kita sering menduga. Bahwa dia, atau dia, atau dia, atau dia, atau dia adalah teman sehidupmu yang bisa kau ajak menikmati secangkir teh hangat saat akhir pekanmu, pasangan yang sedianya akan menghadiahkan kecupan, bunga, dan paket liburan yang kerap berakhir dengan pelukan hangat. Dan dugaan manis lainnya.

Entah siapa yang mengajarkan kita lihai menduga. Meski kita tahu bahwa dugaan manis tak selalu memberikan bingkisan semanis dugaan itu sendiri. Kita tak enggan menduga, meski kadang kita sudah tahu rasa sakit yang sedang berada di depan dugaan itu.

Kita masih saja kerap menduga meski kerap apa yang diduga tak pernah benar dan menjadi nyata. Kita kadang kerap menduga, padahal berharap mungkin lebih indah dari pada menduga. Ya, berharap. Menyediakan harapan, bukan dugaan. Meski dua hal ini memang sama-sama menyiapkan kemungkinan yang menyakitkan. Namun sepahit-pahitnya harapan, ia masih lebih ramah dibanding sebuah dugaan.

Harapan adalah doa yang mengapung ditengah-tengah pencarian//penantian (karena mencari adalah menanti, dan menanti sesungguhnya adalah mencari). Namun dugaan adalah garis final diantara perjalanan panjang yang bisa jadi ternyata belum usai. Ya, (lagi) akan kukatakan belajarlah berharap, dan kurangi menduga. Percayalah, menduga akan lebih menyakitan dari pada sebuah harapan. Dugaan hanya akan menyediakanmu dua kemungkinan, tepat atau tidak tepat. Namun harapan, pelan-pelan akan mengajarkanmu tentang doa yang lambat dijawab, tentang doa yang dijawab dengan cara yang lain, dan harapan juga yang mengajarkanmu untuk tabah menunggu. Harapan menyediakan ruang longgar untukmu agar bisa ikhlas menerima lebih banyak kemungkinan, karena ada banyak kemungkinan buruk diantara lebih banyak kemungkinan baik, dan ada banyak kemungkinan baik diantara lebih banyak kemungkinan buruk.

Aku sering menduga. Namun saat ini aku pelan-pelan aku akan belajar berharap. Dan membiarkan harapanku dijawab dengan cara apapun; ia, tidak, dia, bukan dia, sekarang, nanti, atau jawaban lainnya. Ya, ini tentang jodoh. Aku sudah dikirimkan banyak “dia”. Menduga, menduga, dan menduga, itu yang kerap aku lakukan.

Seperti kataku tadi, aku akan aku selalu menikmati perasaan kasmaran yang dikirimkan Tuhan.Bahkan saat rasa itu berubah menjadi rasa sakit; karena rindu yang tak kunjung bisa kukendalikan.Dugaan adalah sumber rasa sakit yang kumaksud itu, rasa ngilu karena aku terlalu sering menduga. Aku terlalu sering menduga bahwa ia dekat. Padahal semua itu perlahan menjauh lagi. Ya, aku menduga. Padahal jalanku masih panjang, kenapa aku sudah menduga; memberi garis final atas pencarian//penantian, yang ternyata belum (seharusnya) usai.  

Saat ini aku sedang belajar berharap. Dan mengeja sebuah kalimat atas apa yang pernah, sedang dan akan terjadi;  “Mungkin rencana Tuhan,” dugaku.

DuniaKata.yo.sinta
15 Oktober 2014

“Dan kita tak selalu akan bersama, menikah, lalu berketurunan dengan orang  yang selalu berusaha hadir untuk kita. Atau tidak pula dengan orang yang selalu kita selipkan namanya dalam doa.Begitulah jodoh. Sebuah teka-teki yang kadang lebih kecut dari segelas lemonade”







Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com