Pages

Sabtu, 01 November 2014

Nanti, Kau Pasti Akan Sendiri



Tak ada yang akan mampu berbohong, jika jauh dari orang yang disayangi adalah bagian dari rasa sakit terburuk yang pernah terlahir ke muka bumi. Entah itu karena orang yang (nyata) sudah mengambil bagian penting dalam hidupmu-seperti ibu, ayah, adik, kakak, teman atau kekasih.  Ataupun mereka yang hanya kau simpan dalam bola matamu, yang diam-diam kau titipkan rindu, kau kirimkan doa dan kau puja dalam diam yang manis. Jauh dari mereka adalah rasa sakit yang bukan main; perih saat kau mengingat, pilu saat kau mengeja namanya pelan, dan ngilu saat kau utarakan rindu; meski sayup tak terdengar.
-kupanggil ia; Rindu-

Ya, hari demi hari yang kau jalani dalam hidup pasti akan mengantarkanmu pada banyak sosok, disengaja atau tidak. Sesepi apapun kehidupanmu, pasti kau tak sendiri. Ada lalulalang orang yang mendampingi pada banyak peristiwa, melemahkan atau menguatkanmu untuk setia bersama hidup. Lalulalang orang yang juga mengantarkanmu pada banyak proses; diinginkan atau tidak ia, penting atau tidak penting ia, berarti atau tidak berarti ia, menyenangkan atau menjengkelkan ia, tapi merekalah yang sedang (setia) lalulalang dalam kehidupanmu yang masih akan berjalan dan sedang menggiringmu perlahan pada kata “sampai”; tujuan akhir dari hidupmu. Ya, aku masih percaya, sesepi apapun kehidupan yang kita miliki, kita tak sendiri.

Diantara lalulalang sosok/orang/rupa/aroma/nafas itu kau pasti menaruh harap pada, satu, dua, tiga, atau lebih dari mereka untuk mau singgah dan bertahan lama pada tiap amukan badai yang kerap berkelahi dengan hari-harimu. Tak ada anak yang mau kehilangan orangtuannya, kehilangan sosok yang akan ia panggil dengan sapaan “Ibu”-“Ayah”. Tak ada kakak yang ingin adiknya menjauh, tak ada adik yang ingin kakaknya tak lagi bisa jadi tempat ia berlindung dari garangnya hari. Tak ada yang ingin kesepian karena kehilangan sosok yang sudah ia labeli dengan kata “sahabat”. Tak ada kekasih yang ingin patah hati. Ya, merekalah orang-orang yang kerap kau titipkan “harapan” agar mereka bertahan lama untuk melihat prosesmu. Tapi ya, itu adalah perkara harapan. 

Bukankah harapan akan mendekatkanmu pada kenyataan buruk, seperti halnya ia mendekatkanmu pada apa yang sedang kau harapkan. Tak ada yang tahu apa yang disimpan waktu untuk masing-masing harapan. 

Semua mungkin saja terjadi tidak seperti apa yang diharapankan; lebih baik atau lebih buruk. Semua bisa saja tak sesuai harapan. Bisa saja mereka yang kau harapkan ada dan hadir malah akan mengantarkanmu pada kesepian panjang yang tumbuh dan beranak pinak dari rindu yang tak usai. Rindu tak bisa bersamanya, tak bisa mendengar suaranya, tak bisa melihatnya, bahkan untuk berkata “rindu” saja kau “bisu”. Ya, dari rindulah pesakitan dan kesepian kerap menjalar. 

Aku memang percaya bahwa; sesepi apapun kehidupan yang kita miliki, kita tak sendiri. Tapi jauh dibalik percaya itu, aku meyakini satu hal; “nanti, kau pasti akan sendiri”. Kau tak akan bisa memboyong mereka semua di garis akhir, di garis “finish” kehidupanmu. Seperti seorang pelari. Ada pelatih yang sedianya menjadi orang paling lantang berteriak saat latihan di hari-hari sebelum perlombaan. Atau bahkan ia masih saja menjadi orang yang teriaknya paling lantang saat sang pelari sudah memasuki arena perlombaan dan mengayunkan kakinya dengan sekuat tenaga-sekencang-kencangnya. Atau jauh di lubuk hati sang pelari, ada ibunya, ayahnya, saudaranya, temanya, kekasihnya, yang menjadi alasannya berlari. Namun tetap sang pelari akan tetap berlari sendiri di arena perlombaan, dan jika berhasil, ia juga tak bisa memboyong mereka yang ada dibalik keberhasilan itu untuk memutus bentangan tali/pita di garis finish sebagai pertanda ia menang. Cukup senyum yang kerap berbinar di tribun penonton, pertanda bahwa mereka ikut menjadi bagian dari kemenangan itu. Ya, aku percaya, nanti kita pasti sendiri.

Di balik harimu yang ramai; dipenuhi banyak orang, kau sebenarnya sendiri. Sekeras apapun mereka mengajarkanmu tentang hidup, mendiktemu tentang semua yang baik, menjauhkanmu dari hal buruk, menguatkanmu saat kau jatuh,  tapi semua akan berpulang pada dirimu. Karena hidup milik masing-masing. Dalam hidup kau tak diizinkan berduet seperti di pentas dangdut. Dalam hidup kau juga tak diizinkan menjadi duo atau grup seperti dalam festival musik yang megah, meski hidup hampir mirip dengan pentas dangdut yang heboh dan festival musik yang riuh. Sedianya kau tetap akan menjadi single fighter, hingga nanti kau akan menjadi  single winner atau single loser.

Percayalah, sekeras apapun mereka yang kerap kau rindukan itu memberikan dan mendoakan yang terbaik bagi hidupmu, tapi Tuhan akan lebih percaya pada usaha dan  doa-doamu.
Teruslah menaruh harap dan menjaga rindu pada mereka, tapi belajar keraslah untuk percaya bahwa kesepian panjang tak lebih penting dari memaknai hidup  yang  lambat laun sedang mengantarkanmu pada kesendirian. Walaupun kau tak mampu berbohong bahwa jauh dari orang yang disayangi adalah bagian dari rasa sakit terburuk yang pernah terlahir ke muka bumi, tapi kau harusnya tak perlu merasa canggung dan enggan karena nanti kau juga akan sendiri. 

Kau hanya perlu tahu cara menikmati rindu, sembari menjadi single fighter untuk hidupmu. 

DuniaKata.yo.sinta
di awal November 2014

*Tulisan ini untuk seseorang yang telah mengajarkan banyak hal dalam hidupku hampir satu tahun belakangan. Tulisan ini, juga hasil belajarku dari sosoknya yang teramat cerdas (hingga sangat jarang bisa ”kutakhlukkan” keliarannya berpikir dan bertindak). Meski kali ini ia memberikan cara belajar yang berbeda; tidak dari diskusi panjang  atau tidak dari perdebatan yang kerap tak ber-ending. Aku (masih) akan berterimakasih. (masih) ia yang memberikan banyak pelajaran baru untuk hidupku, meski (bukan lagi) ia yang sedang berdialog dengan mataku seperti waktu-waktu sebelumnya.  

Terimakasih telah mengajarkanku untuk bisa berjalan sendiri.
Meski aku belum tahu, aku sampai atau tidak. Aku menang atau kalah.

Selasa, 14 Oktober 2014

“mungkin rencana Tuhan, dugaku”

Aku selalu menikmati perasaan kasmaran yang dikirimkan Tuhan.
Bahkan saat rasa itu berubah menjadi rasa sakit; karena rindu yang tak kunjung bisa kukendalikan.

Pernah kalian melihat tapi tak bisa mendekat, lalu menyentuhnya. Mendengar tapi tak bisa apa-apa. Berdekatan tapi tak bisa saling dekap, atau bahkan untuk saling bertatap mata. Rindu, senandungkanlah ia berkali-kali ketika kau dijebak mimpi buruk itu.

Ini bukan cerita tentang patah hati. Bukan tentang cinta yang tak sampai. Atau bukan pula tentang cinta yang tak berbalas. Ini tentang sesuatu yang aku yakini dekat. Namun jauh saat aku mendekat.

“mungkin rencana Tuhan, dugaku”

Sebagai perempuan kita sering menduga-duga saat setiap kali kita diizinkan untuk jatuh cinta. Menduga bahwa dia pasangan yang dikirim Tuhan untuk menghabiskan banyak waktu dari waktu singkat yang disediakan Tuhan di bumi. Lalu menduga bahwa dia yang akan menghabiskan waktu berikutnya, di Surga kelak.

Kerap kali kita menduga dengan sangat nyinyir bahwa dialah pemilik tulang rusuk yang menjelma menjadi kita. Hingga lalu kemudian, dia menghilang. Kita usai menduga.

Namun kita kembali menduga ketika dia tergantikan oleh dia, dia, dia, dan dia berikutnya. Kita tak kunjung usai menduga bahwa dia yang berikutnya juga dia yang akan menjadi laki-laki yang idealnya melindungi matamu dari airmata yang mengganas, dari gelisah yang mengamuk, dan dari rasa sakit yang meradang.

Kita kerap menyisakan kemungkinan setelah kita dihadapkan pada busuknya keadaan, pahitnya kegagalan, sakitnya patah hati, dan tajamnya kenangan. Kita masih menyisakan kemungkinan untuk dugaan-dugaan berikutnya. Kita sangat jarang takut untuk kembali menduga.Kita kerap memilih untuk melanjutkan dugaan, bahwa dia yang berikutnya adalah dia; pasangan yang akan membaca koran di beranda rumah impianmu, saat kau sedang asik menyirami tanaman di halaman rumahmu yang penuh bunga, dengan anak-anak yang sedang bersepeda di teras depan, yang tak lepas dari pandanganmu dan lelakimu itu.

Ya, kita sering menduga. Bahwa dia, atau dia, atau dia, atau dia, atau dia adalah teman sehidupmu yang bisa kau ajak menikmati secangkir teh hangat saat akhir pekanmu, pasangan yang sedianya akan menghadiahkan kecupan, bunga, dan paket liburan yang kerap berakhir dengan pelukan hangat. Dan dugaan manis lainnya.

Entah siapa yang mengajarkan kita lihai menduga. Meski kita tahu bahwa dugaan manis tak selalu memberikan bingkisan semanis dugaan itu sendiri. Kita tak enggan menduga, meski kadang kita sudah tahu rasa sakit yang sedang berada di depan dugaan itu.

Kita masih saja kerap menduga meski kerap apa yang diduga tak pernah benar dan menjadi nyata. Kita kadang kerap menduga, padahal berharap mungkin lebih indah dari pada menduga. Ya, berharap. Menyediakan harapan, bukan dugaan. Meski dua hal ini memang sama-sama menyiapkan kemungkinan yang menyakitkan. Namun sepahit-pahitnya harapan, ia masih lebih ramah dibanding sebuah dugaan.

Harapan adalah doa yang mengapung ditengah-tengah pencarian//penantian (karena mencari adalah menanti, dan menanti sesungguhnya adalah mencari). Namun dugaan adalah garis final diantara perjalanan panjang yang bisa jadi ternyata belum usai. Ya, (lagi) akan kukatakan belajarlah berharap, dan kurangi menduga. Percayalah, menduga akan lebih menyakitan dari pada sebuah harapan. Dugaan hanya akan menyediakanmu dua kemungkinan, tepat atau tidak tepat. Namun harapan, pelan-pelan akan mengajarkanmu tentang doa yang lambat dijawab, tentang doa yang dijawab dengan cara yang lain, dan harapan juga yang mengajarkanmu untuk tabah menunggu. Harapan menyediakan ruang longgar untukmu agar bisa ikhlas menerima lebih banyak kemungkinan, karena ada banyak kemungkinan buruk diantara lebih banyak kemungkinan baik, dan ada banyak kemungkinan baik diantara lebih banyak kemungkinan buruk.

Aku sering menduga. Namun saat ini aku pelan-pelan aku akan belajar berharap. Dan membiarkan harapanku dijawab dengan cara apapun; ia, tidak, dia, bukan dia, sekarang, nanti, atau jawaban lainnya. Ya, ini tentang jodoh. Aku sudah dikirimkan banyak “dia”. Menduga, menduga, dan menduga, itu yang kerap aku lakukan.

Seperti kataku tadi, aku akan aku selalu menikmati perasaan kasmaran yang dikirimkan Tuhan.Bahkan saat rasa itu berubah menjadi rasa sakit; karena rindu yang tak kunjung bisa kukendalikan.Dugaan adalah sumber rasa sakit yang kumaksud itu, rasa ngilu karena aku terlalu sering menduga. Aku terlalu sering menduga bahwa ia dekat. Padahal semua itu perlahan menjauh lagi. Ya, aku menduga. Padahal jalanku masih panjang, kenapa aku sudah menduga; memberi garis final atas pencarian//penantian, yang ternyata belum (seharusnya) usai.  

Saat ini aku sedang belajar berharap. Dan mengeja sebuah kalimat atas apa yang pernah, sedang dan akan terjadi;  “Mungkin rencana Tuhan,” dugaku.

DuniaKata.yo.sinta
15 Oktober 2014

“Dan kita tak selalu akan bersama, menikah, lalu berketurunan dengan orang  yang selalu berusaha hadir untuk kita. Atau tidak pula dengan orang yang selalu kita selipkan namanya dalam doa.Begitulah jodoh. Sebuah teka-teki yang kadang lebih kecut dari segelas lemonade”







Senin, 29 September 2014

Kita dan Seseorang; sebuah tulisan duet berikutnya; Rama-Sinta

Tentang seseorang. Tentang mereka yang hadir. Tentang mereka yang datang lalu menetap. Tentang yang datang lalu kemudian pergi. Tentang yang datang, pergi, lalu datang lagi. Tentang yang datang, pergi dan tak kembali. Semua masih tentang cinta. Kali ini tulisan duet ini dibuat tanpa harus bertemu. Mari.

Simaklah.Betapa apik ia menyusun potongan pertemuan hingga jadi perpisahan. Lalu kembali mengantarkan perpisahan pada sebuah pertemuan lagi. Dan merangkum semua menjadi teka-teki. Rama, silahkan temui ia di ; jokeray.wordpress.com

Kalimat-kalimat ini menjadi bagian dari cerita pendek berjudul “Lelaki Hujan Perempuan Senja” yang ia tulis...

**Tak ada yang tau bagaimana seseorang masuk di kehidupan kita (RM, Rama)
**Tak ada yang tau bagaimana seseorang masuk  dan menjadi bagian kehidupan kita, orang yang sama sekali asing kemudian menjadi orang terdekat kita. (RM, Rama)
 **Tak ada yang tau bagaimana seseorang masuk  dan menjadi bagian kehidupan kita, orang yang sama sekali asing kemudian menjadi orang terdekat kita. Kemudian, tak lama akan menjadi orang asing lagi.. (RM, Rama)
**Tak ada yang tau bagaimana seseorang masuk  dan menjadi bagian kehidupan kita, orang yang sama sekali asing kemudian menjadi orang terdekat kita. Kemudian, tak lama akan menjadi orang asing lagi. Dan saat semua sudah benar-benar asing, kita ingin kembali mendekat…(RM, Rama)
**Tak ada yang tau bagaimana seseorang masuk  dan menjadi bagian kehidupan kita, orang yang sama sekali asing kemudian menjadi orang terdekat kita. Kemudian, tak lama akan menjadi orang asing lagi. Kemudian, saat semua sudah benar-benar asing, kita ingin kembali menjadi dekat.  Seperti puzzle yang membingungkan, saat kita bertanya: benarkah ini kepingan yang kita butuhkan?  Dan saat kita tau jawabannya, dan semua hampir sempurna, namun kepingan itu sudah tidak bersama kita, bisakah puzzle tersebut tetap menjadi puzzle yang sempurna? (RM, Rama)

Sedangkan aku, masih belum serapi itu menyusun kepingan kejadian hingga bisa dirunut menjadi rentetan kronologis yang bisa dipahami dengan mudah seperti ia menyusunnya di atas, meski diakhir ia masih saja bertanya, tentang puzzle dan kesempurnaan.

Bagiku cinta adalah perkara tiga hal; tentang kepercayaan//tentang hal yang tak terduga//dan tentang harapan.


Tentang kepercayaan. Terkadang ketika kita mencoba membuka ruang percaya dan ruang pengertian selebar-lebarnya, seluas-luasnya, kadang pintu ruang itu dibanting keras oleh lalulalang orang, lalulalang kekecewaan dan lalulalang kehilangan. Hingga akhirnya kita berpikir menutup ruang itu serapat-rapatnya. (YS, Sinta)

Tentang hal yang tak terduga. Terkadang kita terlalu sering menutup mata untuk orang yang selalu berusaha hadir untuk kita, karena kita terlalu sibuk berusaha hadir untuk oranglain. Dan kita tak selalu akan bersama, menikah, lalu berketurunan dengan orang  yang selalu berusaha hadir untuk kita. Begitulah jodoh. Sebuah teka-teki yang kadang lebih kecut dari segelas lemonade. (YS, Sinta)

Tentang harapan.Terkadang kita masih menyisakan kemungkinan di balik ketidakpercayaanya. Seperti kita menyisakan harapan pada segala macam kemungkinan. (YS, Sinta)

DuniaKata.yosinta.  

x

Rabu, 24 September 2014

“Let Get Rich” ; sebuah tulisan “duet” aa-ys

Ia asik sendiri. Berusaha membeli banyak rumah, bangunan, hotel, tanah, pulau, dan atribut lainnya yang menjadi candu baginya dalam dunia fantasinya itu. Game itu memang berhasil mencuri banyak waktu dari sedikit waktu santai yang ia punya. Let Get Rich, game itu memang berhasil menghipnotisnya hingga ia menjadi acuh dengan sekelilingnya. Tidak paham bahwa ada orang yang menunggunya untuk bercerita, berdiskusi, atau melakukan hal lainnya yang mungkin lebih menarik dilakukan berdua.Bukan sendiri. Setelah ia bilang “nyawa habis”, ia  mau tak mau menaruh ponsel pintarnya, lalu memilih duduk disampingku. Ia jadi patnerku dalam tulisan ini.

Kami awali dengan pertanyaan ….
 “Saat rambutku mulai rontok, apakah aku sudah cukup kaya?”

Mungkin ini pertanyaan yang sedang sangat ingin ia jawab dengan permainan Let Get Richnya itu. Mungkin dia bukan satu-satunya orang yang menggilai game yang tampaknya sedang mengajak orang untuk menjadi kaya  (meski sedang dalam dunia fantasi).

Apa semua orang di dunia ini bermimpi untuk menjadi kaya. Lalu, apa mungkin ada kekayaan yang tak tampak-tak terlihat secara kasat mata, tapi justru malah dapat dirasakan ? Sehingga, semua orang sah-sah saja untuk bermimpi menjadi kaya, karena kaya bukan perkara yang tampak saja, tapi seperti kataku tadi, ada kaya yang tak tampak, namun nyata; nyata bahwa ia memberikan bahagia (mungkin).

Namun kenyataannnya di dunia nyata, kekayaan sangat diagungkan karena kekayaan dapat merubah situasi dari yang tidak diharapkan menjadi sebuah kondisi ideal, yang tentunya diharapkan. Terkadang, yang harampun bisa dihalalkan.Ya, itu salah satu cara agar bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Memanipulasi hal baik menjadi buruk, atau sebaliknya, hal buruk menjadi baik. Hitam dan putih kadang membaur menjadi ‘abu-abu’ yang sudah sulit dipisahkan lagi muasalnya;putih atau hitam.

Lalu, setelah kaya apalagi yang dicari ? Masih adakah hal diatas kekayaan, sehingga mereka yang sudah sampai pada kondisi baik itu (baca: kaya) malah seolah tak ingin berhenti. Lagi, lagi, dan lagi mengejar kekayaan yang lain, ia menjadi ketagihan untuk mengejar kekayaan berikutnya. Apa itu pertanda bahwa tak ada tolak ukur dan patokan dari kata kaya itu sendiri. Di atas orangkaya ada orang yang lebih kaya, dan diatas yang lebih kaya, ada yang sangat kaya.

Ya, semua masih tentang kaya. Mimpi dari sikaya adalah menjadi yang terkaya, sehingga ia akan berusaha meraih banyak hal yang membuatnya sampai pada posisi ter/posisi paling; paling tinggi dan paling atas. Namun terkadang orang yang terkaya itu tidak memiliki apa yang dimiliki sikaya lainnya. Jika sikaya penyantap steak, pizza, spagety, burger dan semua makanan menggiurkan yang terdengar nikmat itu dengan lahap menyantap hidangannya di meja mewah, samakah dengan kekayaan yang sedang dinikmati penyantap lalap, sambal terasi dan tempe goreng yang sedang melahap semua itu sebagai hidangan penuh cinta yang dibungkuskan istrinya sebagai bekal makan siang hari ini. Adakah yang bisa membandingkan dua hal itu, mana yang lebih nikmat ? Mana yang lebih kaya?

Jika kekayaan diumpamakan sebagai cahaya, bintang bisa disebut sebagai kekayaan itu, karena bintang yang kerap menjadi sumber binar pada gelapnya malam, ia menjadi yang kaya dalam gelap, ia menjadi kaya karena gelap, adakah bintang pada siang yang terang ? Lalu kalau sudah begitu, siapa yang kaya, bintang, atau malam pemilik kegelapan, yang memberi hidup pada bintang.

Semoga kalian akan sampai pada kesimpulan bahwa kaya memang perkara yang tak punya kata pasti untuk tolak ukur, puncak capaiaannya, bahkan bentuknya sekalipun.

Semoga kalian dalam keadaan kaya, dan bersama kekayaan masing-masing.

Ruang Diskusi 24/9 *Dunia Kata.yo.sinta


Sabtu, 20 September 2014

Menunggu Hujan hingga Bersama Hujan

*tulisan sederhana saat menunggu teduh hujan

Aku selalu menerka bahwa lelaki yang dikirim Tuhan untuk menghabiskan hujan bersamaku dan dengan sabar menunggu teduh itu datang adalah lelaki yang pas untukku, pas untuk menjadi tua bersamaku. Adakah kau pada teduh yang kuintai ??? ***

Kutipan Cerpen “Teduh Itu Selepas Hujan-yo.Sinta

Aku tak tahu, apa perasaan berbunga (kadang sendu) saat hujan dimiliki oleh setiap perempuan di muka bumi ini. Mungkin karena mereka makluk berhati halus yang mengagumi keromantisan. Hujan memang kerap jadi sebuah penggambaran tentang rindu, kenangan, dan juga cinta. Aku memang kerap menunggu hujan.

Aku salah satu perempuan yang senang terkepung ‘di dalam hujan’, dan senang bersama hujan. Namun makin kesini aku menyadari satu hal, bahwa yang kucari dan kunikmati dari hujan bukanlah basahnya. Bukanlah bisik suara rintiknya yang jatuh ke tanah dan bebatuan. Namun ‘teduhnya’. Hanya hujan yang mampu memberikan teduh, seperti pantai yang menjanjikan debur ombak.

Teduhlah yang diincar dari hujan. Hujan yang turun bermenit-menit, atau mungkin berjam-jam akan menjanjikan teduh. Cobalah. Jika kau sudah menunggu hujan, dan sudah menghabiskan waktumu untuk bersamanya, hingga ia reda, jangan berpikir untuk menyudahi kesenanganmu itu. Sempatkanlah berdiam diri melepasnya: berdiri di depan jendela kamarmu, atau duduk di beranda rumahmu, lalu hiruplah udara  dari sisa hujan itu. Nikmati lembut aroma tanah basah dan udara lembab yang tawarkan. Itulah teduh yang kumaksud. Bukanlah suasana manis itu sangat menyenangkan. Bagiku itulah puncak kebahagiaan ketika sudah memutuskan untuk menunggu hujan dan menghabiskan waktu bersamanya. Dan hanya hujan yang akan menjanjikan itu padamu.

Ya, teduhmu hujan yang kuincar. Jadilah teduh,agar aku selalu memiliki alasan untuk menunggu dan bersama hujan.

DuniaKata.yo.sinta

Jumat, 19 September 2014

BE HONEST ??


Pernahkah kalian mereka ulang semua jawaban, penjelasan, atau apapun yang kalian pernah jabarkan dalam hidup. Lalu menghitung berapa banyak kebohongan diantaranya. Mulai dari persoalan sederhana, saat Ibumu bertanya “habis uang jajan tadi ?”, atau pertanyaan penting “sudah makan tadi? ”, lalu pertanyaan serius  berikutnya “apa kamu mencintaiku ?”.

Sebelum mengurai panjang lebar tentang gelisah yang sedang ingin saya bagi, saya ingin meyakinkan siapa saja yang membaca bahwa ini bukan artikel pendukung pelajaran ppkn/kewarganegaraan atau pelajaran agama, atau pelajaran etika dan sopan santun sekalipun. Ini hanya gelisah yang harusnya jadi celotehan. Namun dinding kamar yang sudah beku di tengah malam begini membuat gelisah ini harus mengapung jadi kata-kata.

Suatu malam Joia gelisah tak bisa tidur, padahal matanya sangat mengantuk sebelumnya. Dan padahal lagi, ia juga sudah berpamitan via ponsel pintar dengan pacarnya. Di awal percakapan, sang pacar yang seharian sudah bekerja tampaknya sangat mengantuk, tak banyak percakapan dan langsung mengantarkan sebuah pesan pendek yang kerap jadi ending percakapan malam hari “yuuk, istirahat”. Joia mengamini, iapun menaruh ponsel lalu mencoba untuk tidur. Namun entah apa-entah kenapa-ia tak bisa tertidur. Setelah gelisah cukup lama, Joia memutuskan untuk kembali meraih ponselnya. Ia melihat pesan via salah satu roomchat yang tak dibaca oleh pacarnya. Ya, mungkin ia sudah tertidur. Namun entah feeling dari mana, ia memutuskan untuk kembali mengirim pesan-Joia merasa pacarnya disana masih terjaga, pesan itu juga sekaligus menjadi tanda dan kabar pada pacarnya bahwa ia tak bisa tidur/belum tidur. Tapi ya, tetap tak dibaca. Joia makin berpikir, ya pacarnya sudah tidur. Namun feeling, ponsel, dan jari seolah bekerja sama malam itu, Joia membuka salah satu akun yang ia punya, pada sebuah akun jejaring sosialnya, ponsel pintar Joia berhasil menemukan kebenaran feelingnya “32 menit yang lalu pacarnya baru saja menyukai dua foto milik teman di akun pribadi pacarnya itu”. Sebuah kehobongankah ini ? Karena lebih kurang sudah satu jam yang lewat pacarnya meninggalkan obrolan mereka dan berisyarat bahwa ia akan tidur. Joia diam-tak menunjukkan reaksi berlebihan, “ini hal kecil” katanya.

Cerita milik seseorang ini membuat saya gelisah. Lalu mempertanyakan tentang sebuah kejujuran. Seberapa mudah mulut kita mengejawantahkan sebuah kebohongan. Saya memilih diam beberapa saat ketika menyimak cerita Joia. Lalu saya me-reka  kebelakang tentang kebohongan yang saya miliki. Ya, ia berjalan beriringan, sebanyak kejujuran yang pernah saya ungkapkan. Atau entahlah, mungkin lebih banyak. Atau (semoga) mungkin lebih sedikit.

Namun pada buku bacaan mana saya harus mencari penjelasan bahwa kebohongan adalah sesuatu yang baik. Kebohongan adalah penyeimbang dari kejujuran yang kadang bisa  membawa kita pada “kebodohan”. Kalian mungkin pernah mendengar bukan “jangan jujur banget jadi orang, nanti gampang dibodohi”. “Berbohong lebih baik dari pada jujur kalau itu menyakitkan”. Atau kalimat sejenis lainnya yang hampir sama maknanya; anjuran agar kita sesekali (boleh) berbohong demi kebaikan. Lantas, apa kebohongan bisa jadi cara agar kita menjadi “yang pintar” saat berhadapan dengan orang lain.  Saya sebenarnya mengurai hal yang abstrak. Perkara kebohongan dan kejujuran hal yang tak bisa diraba bukan, mungkin hanya dirimu dan Tuhanmu saja yang tahu.

Namun lagi-lagi ini gelisah yang harus saya urai dan tuntaskan. Saya mulai ketakutan, saya mulai menyangsikan sebuah kebohongan sekaligus kebenaran. Berapa kuatkan akhirnya hal yang kita bangun jika pondasinya bercampur dengan kebohongan. Bukankah itu seumpama, kuli bangunan yang mencampur adukan semen untuk bangunan yang sedang ia kerjakan dengan bahan yang lebih murah/tak sesuai takaran semestinya/mencampur dengan bahan lain yang lebih rendah kualitasnya ?? Bangunan itu tetap akan bisa berdiri, juga tampak kokoh, tapi mungkin akan menjadi lebih mudah retak atau lebih buruknya lagi hancur berkeping saat gempa datang.

Entahlah, atau mungkin ini perumpamaan yang salah.

Berkata bahwa kita akan menjadi jujur, atau janji bahwa kita tidak akan berbohong tentunya bukanlah hal sederhana. Kita perlu berkali-kali harus mempertanyakan kembali tentang nilai dan arti kejujuran itu pada hati.Tulisan ini bukan juga sebuah ajakan untuk menjadi jujur. Karena saya juga belum tahu, kejujuran apa yang bisa sama-sama kita amini.

Saya sedang membayangkan jika suatu hari Joia memutuskan menikah dengan pacarnya. Lalu pada hari pernikahan itu Joia mengurakan pertanyaan penting yang saya tuliskan di awal “apa kamu mencintaiku”. Yang kemudian akan dilanjutkan dengan pertanyaan manis berikutnya, “apa kamu akan setia, mendampingiku selamanya?” Bukanlah itu lebih rumit, menjawab hal diluar pengetahuan kita, kita tak punya kemampuan yang 100 % ampuh tentang prediksi masa depan bukan. Apa jawaban ya adalah sebuah kejujuran, atau mungkin kebohongan ??
Atau pada kondisi lain di hari pernikahan itu, ada seorang perempuan yang duduk di bangku tamu, dan perempuan itu adalah pacar dari pacarnya-yang akan jadi suaminya. Padahal sebelum memutuskan menikah Joia pernah bertanya “apa saya perempuan satu-satunya di dunia ini yang kamu sayangi”. Entahlah, apa itu bagian dari kebohongan untuk kebaikan.

Tapi entahlahlah. Lagi-lagi entahlah. Kata-kata saya masih terbata untuk mengurai lebih banyak hal lagi tentang kejujuran dan kebohongan.

Apakah kita memang tidak boleh berbohong, seperti yang diajarkan oleh guru, ibu-bapak kita sejak kita kecil. Apakah menjadi sangat ideal kalau kita tidak berbohong.

Apakah kita menjadi yang benar saat kita bisa untuk tidak berbohong. Lalu, apakah ada yang bisa untuk tidak berbohong, dan menyodorkan kebenaran setiap saat. Jika ada, bukanlah di dunia ini ….

“tak ada kebenaran yang benar-benar; BENAR” ??


DuniaKata.yosinta.

Hidup adalah Perkara Mengetuk Pintu :ketika saya bersama “pilihan saya”

Sempatkah sesekali kalian terdiam, lalu menawarkan pertanyaan sederhana pada dirimu sendiri. “Kau mau dikenal lalu dikenang sebagai siapa kelak”. Kehidupan adalah proses mencari, mencari pintu mana yang tepat untuk kau ketuk, bisa kau masuki, dan bisa membuatmu nyaman berdiam-lalu menghuni ruangan itu. Banyak pintu yang bisa kau ketuk tapi tak bisa kau masuki, atau ada yang lebih sulit; kau sama sekali tak menemukan pintu untuk kau ketuk. Lalu ada pintu yang bisa kau ketuk, bisa kau masuki, namun kau tak nyaman di dalamnya.

Bukanlah semua tentang hidup adalah perkara mengetuk pintu.

Kau terlahir, besar, lalu orangtuamu mulai menanam banyak benih dalam dirimu yang siap tumbuh jadi cita-cita yang kemudian akan berkembang menjadi obsesi. Obsesi yang kemudian menggiringmu menemukan pintu yang tepat untuk kau ketuk-lalu dipintu cita-cita kau kerap tumbuh menjadi apa-siapa-dan bagaimana.

Saat kau tumbuh menjadi dewasa kau juga perlahan mencari pintu yang tepat untuk kau ketuk, kau masuki,dan jika sudah pas, di dalamnya kau akan nyaman untuk berbicara banyak hal tentang cinta. Jodoh juga perkara mencari pintu yang tepat untuk kau masuki bukan. Dan sebaliknya siapa yang bisa mengetuk hatimu, membukanya dan kau izinkan untuk menghuni ruang paling istimewa yang kau miliki//hati.

Rezeki/karier/pekerjaan dan jodoh yang kuurai di atas dua hal mendasar bukan dalam kehidupan ini. Dua hal mendasar yang bergantung pada proses mengetuk pintu. Ya. Aku makin yakin bahwa hidup adalah perkata mengetuk pintu. Aku berkali-kali mengetuk pintu, banyak pintu yang ketemui dalam hidupku, untuk urusan apa saja itu. Aku terlahir bukan sebagai seorang anak manusia yang punya kehidupan mulus, baik-baik saja, yang jalannya seperti skenario sempurna tanpa revisi. Hingga diusiaku saat ini cukup banyak pintu yang sudah aku ketuk, kumasuki, kuhuni, dan juga pintu yang tak kuketuk sama sekali. Atau yang kuketuk,  namun tak kumasuki, meski aku harusnya bisa masuk dan menghuni ruangan itu. Ya, hidupku belum tuntas. Namun tentunya aku ingin menemukan ruangan yang tepat itu-secepatnya.

Pertanyaan sederhana “kau mau dikenal lalu dikenang sebagai siapa kelak” memang membuatku berpikir keras tentang pintu-pintu yang sudah kuketuk dan kuhuni sekarang. Menyadarkan aku tentang capaian di usiaku yang sudah 24 tahun. Terlambatkan jika aku keluar dari ruang ini ?? Lalu memutuskan kembali mundur ke belakang, mencari pintu yang sempat kuketuk, namun tak kumasuki itu. Atau sembari itu aku juga akan mencari pintu yang tepat untuk kumasuki (lagi), setelah aku mengetuknya.
Pertanyaan sederhana itu memang tak datang dengan sendirinya. Banyak hal yang terjadi membuatku ‘terdesak’. Ya, entah terjemahan apa yang tepat untuk kata yang kukutip itu. Tapi itulah mungkin kata yang tepat untuk mewakili kondisi yang tak mungkin kuurai dan kujabarkan, karena itu bagian dari proseskku yang tak perlu kalian pahami. Kalian hanya mesti paham aku sedang berusaha menjawab pertanyaan sederhana itu.

“Kau mau dikenal lalu dikenang sebagai siapa kelak”

Aku sudah memutuskan. Keluar dari ruangan itu. Meski banyak yang menyayangkan, namun tentunya aku lebih menyayangkan jika aku terlalu lama harus berdiam diri untuk tidak melanjutkan proses mencariku. Aku tak ingin lebih terlambat dari hari ini.

Semua ini tentangku. Tentang proses yang sedang kumulai, kulanjutkan dan akan aku capai. Teruntuk kalian yang ada disekelilingku, berdiamdirilah lihatlah aku mencari. Namun jikapun ada yang sedang mencoba mendampingiku untuk proses ini terimakasih atas keridhaan menerima proses kembali “nol” yang sedang menjadi pilihanku.

Masih tentang kata.


Duniakata.yo.sinta
*semoga tulisan ini bisa membuat banyak orang paham dan tak lagi menyodorkan pertanyaan “kenapa resign??”




Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com