Pages

Jumat, 19 September 2014

BE HONEST ??


Pernahkah kalian mereka ulang semua jawaban, penjelasan, atau apapun yang kalian pernah jabarkan dalam hidup. Lalu menghitung berapa banyak kebohongan diantaranya. Mulai dari persoalan sederhana, saat Ibumu bertanya “habis uang jajan tadi ?”, atau pertanyaan penting “sudah makan tadi? ”, lalu pertanyaan serius  berikutnya “apa kamu mencintaiku ?”.

Sebelum mengurai panjang lebar tentang gelisah yang sedang ingin saya bagi, saya ingin meyakinkan siapa saja yang membaca bahwa ini bukan artikel pendukung pelajaran ppkn/kewarganegaraan atau pelajaran agama, atau pelajaran etika dan sopan santun sekalipun. Ini hanya gelisah yang harusnya jadi celotehan. Namun dinding kamar yang sudah beku di tengah malam begini membuat gelisah ini harus mengapung jadi kata-kata.

Suatu malam Joia gelisah tak bisa tidur, padahal matanya sangat mengantuk sebelumnya. Dan padahal lagi, ia juga sudah berpamitan via ponsel pintar dengan pacarnya. Di awal percakapan, sang pacar yang seharian sudah bekerja tampaknya sangat mengantuk, tak banyak percakapan dan langsung mengantarkan sebuah pesan pendek yang kerap jadi ending percakapan malam hari “yuuk, istirahat”. Joia mengamini, iapun menaruh ponsel lalu mencoba untuk tidur. Namun entah apa-entah kenapa-ia tak bisa tertidur. Setelah gelisah cukup lama, Joia memutuskan untuk kembali meraih ponselnya. Ia melihat pesan via salah satu roomchat yang tak dibaca oleh pacarnya. Ya, mungkin ia sudah tertidur. Namun entah feeling dari mana, ia memutuskan untuk kembali mengirim pesan-Joia merasa pacarnya disana masih terjaga, pesan itu juga sekaligus menjadi tanda dan kabar pada pacarnya bahwa ia tak bisa tidur/belum tidur. Tapi ya, tetap tak dibaca. Joia makin berpikir, ya pacarnya sudah tidur. Namun feeling, ponsel, dan jari seolah bekerja sama malam itu, Joia membuka salah satu akun yang ia punya, pada sebuah akun jejaring sosialnya, ponsel pintar Joia berhasil menemukan kebenaran feelingnya “32 menit yang lalu pacarnya baru saja menyukai dua foto milik teman di akun pribadi pacarnya itu”. Sebuah kehobongankah ini ? Karena lebih kurang sudah satu jam yang lewat pacarnya meninggalkan obrolan mereka dan berisyarat bahwa ia akan tidur. Joia diam-tak menunjukkan reaksi berlebihan, “ini hal kecil” katanya.

Cerita milik seseorang ini membuat saya gelisah. Lalu mempertanyakan tentang sebuah kejujuran. Seberapa mudah mulut kita mengejawantahkan sebuah kebohongan. Saya memilih diam beberapa saat ketika menyimak cerita Joia. Lalu saya me-reka  kebelakang tentang kebohongan yang saya miliki. Ya, ia berjalan beriringan, sebanyak kejujuran yang pernah saya ungkapkan. Atau entahlah, mungkin lebih banyak. Atau (semoga) mungkin lebih sedikit.

Namun pada buku bacaan mana saya harus mencari penjelasan bahwa kebohongan adalah sesuatu yang baik. Kebohongan adalah penyeimbang dari kejujuran yang kadang bisa  membawa kita pada “kebodohan”. Kalian mungkin pernah mendengar bukan “jangan jujur banget jadi orang, nanti gampang dibodohi”. “Berbohong lebih baik dari pada jujur kalau itu menyakitkan”. Atau kalimat sejenis lainnya yang hampir sama maknanya; anjuran agar kita sesekali (boleh) berbohong demi kebaikan. Lantas, apa kebohongan bisa jadi cara agar kita menjadi “yang pintar” saat berhadapan dengan orang lain.  Saya sebenarnya mengurai hal yang abstrak. Perkara kebohongan dan kejujuran hal yang tak bisa diraba bukan, mungkin hanya dirimu dan Tuhanmu saja yang tahu.

Namun lagi-lagi ini gelisah yang harus saya urai dan tuntaskan. Saya mulai ketakutan, saya mulai menyangsikan sebuah kebohongan sekaligus kebenaran. Berapa kuatkan akhirnya hal yang kita bangun jika pondasinya bercampur dengan kebohongan. Bukankah itu seumpama, kuli bangunan yang mencampur adukan semen untuk bangunan yang sedang ia kerjakan dengan bahan yang lebih murah/tak sesuai takaran semestinya/mencampur dengan bahan lain yang lebih rendah kualitasnya ?? Bangunan itu tetap akan bisa berdiri, juga tampak kokoh, tapi mungkin akan menjadi lebih mudah retak atau lebih buruknya lagi hancur berkeping saat gempa datang.

Entahlah, atau mungkin ini perumpamaan yang salah.

Berkata bahwa kita akan menjadi jujur, atau janji bahwa kita tidak akan berbohong tentunya bukanlah hal sederhana. Kita perlu berkali-kali harus mempertanyakan kembali tentang nilai dan arti kejujuran itu pada hati.Tulisan ini bukan juga sebuah ajakan untuk menjadi jujur. Karena saya juga belum tahu, kejujuran apa yang bisa sama-sama kita amini.

Saya sedang membayangkan jika suatu hari Joia memutuskan menikah dengan pacarnya. Lalu pada hari pernikahan itu Joia mengurakan pertanyaan penting yang saya tuliskan di awal “apa kamu mencintaiku”. Yang kemudian akan dilanjutkan dengan pertanyaan manis berikutnya, “apa kamu akan setia, mendampingiku selamanya?” Bukanlah itu lebih rumit, menjawab hal diluar pengetahuan kita, kita tak punya kemampuan yang 100 % ampuh tentang prediksi masa depan bukan. Apa jawaban ya adalah sebuah kejujuran, atau mungkin kebohongan ??
Atau pada kondisi lain di hari pernikahan itu, ada seorang perempuan yang duduk di bangku tamu, dan perempuan itu adalah pacar dari pacarnya-yang akan jadi suaminya. Padahal sebelum memutuskan menikah Joia pernah bertanya “apa saya perempuan satu-satunya di dunia ini yang kamu sayangi”. Entahlah, apa itu bagian dari kebohongan untuk kebaikan.

Tapi entahlahlah. Lagi-lagi entahlah. Kata-kata saya masih terbata untuk mengurai lebih banyak hal lagi tentang kejujuran dan kebohongan.

Apakah kita memang tidak boleh berbohong, seperti yang diajarkan oleh guru, ibu-bapak kita sejak kita kecil. Apakah menjadi sangat ideal kalau kita tidak berbohong.

Apakah kita menjadi yang benar saat kita bisa untuk tidak berbohong. Lalu, apakah ada yang bisa untuk tidak berbohong, dan menyodorkan kebenaran setiap saat. Jika ada, bukanlah di dunia ini ….

“tak ada kebenaran yang benar-benar; BENAR” ??


DuniaKata.yosinta.

Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com