Pages

Sabtu, 20 September 2014

Menunggu Hujan hingga Bersama Hujan

*tulisan sederhana saat menunggu teduh hujan

Aku selalu menerka bahwa lelaki yang dikirim Tuhan untuk menghabiskan hujan bersamaku dan dengan sabar menunggu teduh itu datang adalah lelaki yang pas untukku, pas untuk menjadi tua bersamaku. Adakah kau pada teduh yang kuintai ??? ***

Kutipan Cerpen “Teduh Itu Selepas Hujan-yo.Sinta

Aku tak tahu, apa perasaan berbunga (kadang sendu) saat hujan dimiliki oleh setiap perempuan di muka bumi ini. Mungkin karena mereka makluk berhati halus yang mengagumi keromantisan. Hujan memang kerap jadi sebuah penggambaran tentang rindu, kenangan, dan juga cinta. Aku memang kerap menunggu hujan.

Aku salah satu perempuan yang senang terkepung ‘di dalam hujan’, dan senang bersama hujan. Namun makin kesini aku menyadari satu hal, bahwa yang kucari dan kunikmati dari hujan bukanlah basahnya. Bukanlah bisik suara rintiknya yang jatuh ke tanah dan bebatuan. Namun ‘teduhnya’. Hanya hujan yang mampu memberikan teduh, seperti pantai yang menjanjikan debur ombak.

Teduhlah yang diincar dari hujan. Hujan yang turun bermenit-menit, atau mungkin berjam-jam akan menjanjikan teduh. Cobalah. Jika kau sudah menunggu hujan, dan sudah menghabiskan waktumu untuk bersamanya, hingga ia reda, jangan berpikir untuk menyudahi kesenanganmu itu. Sempatkanlah berdiam diri melepasnya: berdiri di depan jendela kamarmu, atau duduk di beranda rumahmu, lalu hiruplah udara  dari sisa hujan itu. Nikmati lembut aroma tanah basah dan udara lembab yang tawarkan. Itulah teduh yang kumaksud. Bukanlah suasana manis itu sangat menyenangkan. Bagiku itulah puncak kebahagiaan ketika sudah memutuskan untuk menunggu hujan dan menghabiskan waktu bersamanya. Dan hanya hujan yang akan menjanjikan itu padamu.

Ya, teduhmu hujan yang kuincar. Jadilah teduh,agar aku selalu memiliki alasan untuk menunggu dan bersama hujan.

DuniaKata.yo.sinta

Pages - Menu

Pages - Menu

Popular Posts

Blogger news

Blogger templates

 

Template by BloggerCandy.com